Sumbawanews.com,- PARIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan harapannya agar Selat Hormuz, jalur strategis pelayaran global, kembali dibuka sepenuhnya untuk lalu lintas komersial mulai Jumat, 19 Juni 2026. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Evian-les-Bains, menjelang dimulainya KTT G7.
Trump mengklaim bahwa AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman perdamaian yang menjadi fondasi bagi normalisasi hubungan kedua negara. Ia menjanjikan dampak besar bagi pasar global: harga minyak yang anjlok dan kenaikan tajam pasar saham. “Banyak hal luar biasa akan terjadi di Timur Tengah,” ujarnya. “Dan yang paling penting, harga minyak turun signifikan, sementara pasar saham melesat seperti roket.”
Namun, di balik optimisme publik, pejabat senior AS yang berbicara kepada media mengungkapkan realitas yang lebih hati-hati. Menurut sumber itu, meskipun kesepakatan telah ditandatangani oleh Trump, Wakil Presiden J.D. Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, kemungkinan besar lalu lintas di Selat Hormuz belum akan kembali normal dalam dua pekan ke depan.
Draf kesepakatan, yang rencananya akan dirilis setelah penandatanganan resmi di Jenewa pada Jumat, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan biaya tol selama 60 hari. Ini merupakan langkah simbolis sekaligus praktis untuk menguji niat baik Teheran. Trump menegaskan, AS tidak akan melonggarkan sanksi ekonomi terhadap Iran sampai negara itu sepenuhnya memenuhi kewajibannya—terutama dalam hal penolakan permanen terhadap pengembangan senjata nuklir.
Kesepakatan ini juga mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan penghentian permusuhan militer. Namun, ketegangan regional tetap menghantui. Israel, yang secara terbuka menolak kesepakatan ini, diduga tengah berupaya menggagalkannya melalui serangan militer di Lebanon, sementara kekhawatiran akan kepatuhan Iran terhadap komitmen jangka panjang masih menjadi tanda tanya besar.
Dengan Selat Hormuz menjadi jalur pengiriman sekitar 20% minyak mentah dunia, keputusan untuk membukanya kembali bukan sekadar masalah diplomatik—ia adalah pemicu ekonomi global. Jika berjalan sesuai rencana, langkah ini bisa menjadi titik balik terbesar dalam hubungan AS-Iran sejak kesepakatan nuklir 2015 runtuh.
Namun, seperti yang diingatkan oleh para analis, kesepakatan yang ditandatangani di meja perundingan belum tentu bertahan di laut yang bergolak.

















