Sumbawanews.com,- Lisbon — Portugal mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Mei, dengan termometer mencapai 40,3 derajat Celsius di Kota Mora, wilayah tengah negara itu, pada Rabu (27/5/2026). Angka ini memecahkan rekor sebelumnya sebesar 40 derajat Celsius yang tercatat pada 2001, sekaligus menjadi tanda peringatan keras atas intensifikasi gelombang panas di Eropa.
Gelombang panas ekstrem ini tidak hanya melanda Portugal, tetapi juga menyebar ke sejumlah negara Eropa Barat. Jerman, Spanyol, dan Swiss mengalami suhu jauh di atas rata-rata musiman, sementara Prancis berada dalam status siaga oranye di 17 departemen, termasuk Paris, yang mencatat 33 derajat Celsius pada Kamis dan diperkirakan akan menyentuh 34 derajat Celsius akhir pekan ini.
Di Prancis, pemerintah menggelar rapat darurat yang dipimpin Perdana Menteri Sébastien Lecornu untuk menyusun strategi antisipasi, mulai dari pencegahan kebakaran hutan hingga pengelolaan pasokan air. Namun, ujian nasional baccalaureate tetap berlangsung meski sejumlah sekolah terpaksa menutup ruangan karena suhu dalam gedung mencapai 53 derajat Celsius di Soustons, wilayah barat daya. Guru-guru melaporkan harus membawa kipas angin pribadi dan bahkan membawa obeng untuk membongkar jendela agar udara bisa masuk. Survei serikat guru menunjukkan 78 persen sekolah mencatat suhu di atas 30 derajat Celsius.
Sementara itu, Italia mengeluarkan peringatan merah untuk Roma, Florence, Bologna, Brescia, dan Turin—peringatan pertama tahun ini—dengan otoritas memperingatkan risiko kesehatan bagi masyarakat sehat sekalipun. Di Spanyol, Madrid diprediksi menyentuh 35 derajat Celsius akhir pekan ini, meski kondisi ini belum resmi diklasifikasikan sebagai gelombang panas, karena biasanya baru terjadi pada Juli hingga Agustus.
Gelombang panas ini dipicu oleh fenomena “heat dome”—kubah udara panas yang terperangkap di atmosfer oleh sistem tekanan tinggi, menghentikan pergerakan udara dingin dan memicu akumulasi panas berkelanjutan. Meski satu peristiwa cuaca tidak bisa langsung dikaitkan dengan perubahan iklim, para ilmuwan menegaskan bahwa pemanasan global telah membuat gelombang panas menjadi lebih sering, lebih intens, dan lebih awal muncul.
Menurut Copernicus, badan pemantau iklim Uni Eropa, Eropa telah mengalami pemanasan rata-rata 0,56 derajat Celsius per dekade selama 30 tahun terakhir. Angka ini cukup untuk mengubah cuaca ekstrem dari kejadian langka menjadi norma baru. PBB memperingatkan bahwa suhu global kemungkinan besar akan tetap berada di level rekor hingga empat tahun ke depan, dengan 11 tahun terpanas sepanjang sejarah tercatat semua terjadi sejak 2015. Tren ini, menurut badan cuaca PBB, hampir pasti akan menghasilkan rekor baru sebelum 2031.
Di tengah panas yang menyengat, atlet pun tak luput dari dampaknya. Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia, terpaksa menyerah dalam pertandingan French Open setelah mengalami pusing dan kelelahan drastis. Meski ia menyangkal cuaca sebagai penyebab, fakta bahwa suhu di lapangan mencapai 40 derajat Celsius membuat banyak pihak meragukan penjelasan itu.
Dari Lisbon hingga Paris, dari Roma hingga Madrid, Eropa kini berhadapan dengan musim panas yang tidak lagi biasa—sebuah tanda bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang kita alami hari ini.















