Sumbawanews.com,- Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menghadapi tekanan politik ganda: popularitasnya mencapai titik terendah dalam survei terbaru, sekaligus menghadapi upaya pemakzulan dari sesama anggota Partai Republik. Survei Marquette Law School yang dilakukan 2–9 September 2026 menunjukkan hanya 25 persen responden memandangnya positif, sementara 49 persen menilai negatif, sehingga favorabilitas bersihnya turun ke minus 24 poin—angka terburuk sejak survei dimulai. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap perang Iran, yang dinilai 79 persen warga AS tidak sebanding dengan biayanya, dan 73 persen tidak menyetujui cara Presiden Donald Trump menanganinya. Di tengah tekanan ini, anggota DPR Thomas Massie dari Kentucky mengajukan delapan pasal pemakzulan terhadap Hegseth pada 15 September 2026, menuduhnya melanggar War Powers Resolution 1973 dengan menjalankan operasi militer terhadap Iran tanpa otorisasi Kongres. Dampak ekonomi dari konflik tersebut terasa nyata di pompa bensin, dengan harga rata-rata bensin reguler nasional mencapai 4,3672 dolar AS per galon pada 16 September 2026, naik signifikan dari 3,1862 dolar AS setahun sebelumnya, sementara harga solar menyentuh 6,3103 dolar AS per galon—level tertinggi yang dicatat AAA.















