Sumbawanews.com,- Setelah wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah, ratusan ribu jemaah haji memadati Jamarat di Mina, Arab Saudi, untuk menjalankan ritual melempar jumrah—sebuah simbol perlawanan spiritual terhadap godaan setan dan keburukan diri. Di bawah terik matahari yang mencapai 43 derajat Celsius, mereka berbondong-bondong mendekati tiga tiang batu, melemparkan tujuh batu kecil sambil mendoakan keikhlasan dan keteguhan hati.
Ritual ini bukan sekadar gerak fisik, tapi perenungan mendalam yang meneladani perjuangan Nabi Ibrahim AS, yang menolak ajakan setan untuk menghalangi perintah Allah untuk menyembelih putranya, Ismail. Setiap lemparan batu menjadi pernyataan iman: bahwa manusia mampu menolak godaan, bahkan di tengah panas yang menyiksa dan kerumunan yang memadat.
Pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan sejumlah mitigasi untuk menghadapi suhu ekstrem: selang penyemprot air yang terpasang di sepanjang jalur, tenda berteknologi pendingin, dan petugas kesehatan yang siap siaga di setiap titik. Namun, semangat jemaah tak tergoyahkan. Di antara hiruk-pikuk dan debu yang beterbangan, wajah-wajah keringat dan doa menjadi satu—tak ada yang mengeluh, hanya ada ketenangan yang mengalir dari hati ke hati.
Di antara ribuan kain ihram yang bergerak serentak, terlihat pula wajah-wajah dari berbagai penjuru dunia: dari Indonesia, Nigeria, Turki, hingga Meksiko. Mereka datang dengan bahasa berbeda, tapi dengan niat yang sama: mengikis ego, menundukkan nafsu, dan memperkuat ikatan dengan Sang Pencipta.
Lempar jumrah bukanlah pertarungan fisik melawan batu—tapi perang batin yang paling murni. Dan di tengah gurun yang panas, jemaah justru menemukan kesejukan yang tak bisa diukur oleh termometer.















