Sumbawanews.com,- Presiden Libanon Joseph Aoun menegaskan bahwa setiap upaya menyelesaikan konflik dengan Israel akan dilakukan sepenuhnya berdasarkan kedaulatan nasional, tanpa terikat pada kesepakatan pihak ketiga—meskipun Iran dan Amerika Serikat tengah merundingkan gencatan senjata regional yang mencakup Libanon.
Dalam pertemuan dengan delegasi uskup Maronit dari diaspora pada Kamis, 18 Juni 2026, Aoun menekankan bahwa Beirut memiliki “jalur independen” dalam negosiasi dengan Tel Aviv. “Kami tidak mengorbankan kedaulatan kami demi kepentingan aktor eksternal,” ujarnya, menegaskan bahwa keputusan akhir tentang gencatan senjata, batas wilayah, dan keamanan perbatasan tetap berada di tangan pemerintah Libanon.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang semakin kompleks. Sejak April, Beirut dan Tel Aviv telah menjalani pembicaraan langsung untuk mengakhiri permusuhan yang memicu serangan balas-membalas antara militer Israel dan Hizbullah. Konflik ini memburuk setelah Hizbullah melancarkan serangan roket pada 2 Maret sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel. Israel kemudian membalas dengan serangan udara dan invasi darat di Libanon Selatan, menewaskan lebih dari 3.800 orang.
Meskipun kesepakatan damai antara Iran dan AS—yang dikonfirmasi oleh Swiss pada Senin lalu—secara eksplisit menyertakan Libanon sebagai pihak yang terdampak, Aoun bersikeras bahwa keterlibatan Teheran atau Washington tidak mengikat kebijakan Beirut. “Kami menerima dukungan, tapi tidak menerima pengaruh,” tegasnya. Ia menekankan bahwa Libanon, sebagai negara demokratis, berhak menentukan nasibnya sendiri, terlepas dari tekanan atau kepentingan besar di kawasan.
Sementara itu, Hizbullah, yang tetap menjadi kekuatan militer de facto di Libanon, menyambut baik upaya Iran untuk memasukkan Libanon ke dalam pembicaraan AS-Iran. Namun, kelompok ini tetap menolak setiap bentuk negosiasi langsung antara pemerintah Libanon dan Israel, menganggapnya sebagai upaya untuk melemahkan senjata mereka dan menghapuskan peran mereka dalam perlawanan.
Meski tingkat kekerasan telah mereda sejak wacana kesepakatan damai muncul, serangan Israel masih terjadi. Pada Rabu lalu, serangan udara di Libanon Selatan menewaskan lima warga sipil, menunjukkan bahwa gencatan senjata belum sepenuhnya terwujud.
Aoun optimistis bahwa putaran kelima negosiasi—yang dijadwalkan minggu depan—akan berjalan lebih konstruktif, terutama setelah AS menunjukkan respons positif terhadap permintaan Libanon untuk tetap menjadi pihak otonom dalam proses perdamaian. “Kami meyakinkan rakyat kami: tidak ada yang bisa mengikat kami. Penyelesaian ini adalah milik kami,” ucapnya.
Dengan posisi yang jelas ini, Libanon berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan akan perdamaian dan tekad untuk tidak menjadi boneka dalam permainan kekuatan regional. Di tengah gesekan antara kepentingan besar, Beirut berdiri—dengan hati-hati, tapi tegas—sebagai negara yang menolak menjadi korban, bukan mitra.
















