Home Berita Internasional Israel Kewalahan Hadapi Serangan Drone Hizbullah, Komandan Minta Bantuan AS

Israel Kewalahan Hadapi Serangan Drone Hizbullah, Komandan Minta Bantuan AS

Sumbawanews.com,- Tel Aviv — Gelombang serangan drone yang dilancarkan Hizbullah di perbatasan Lebanon-Israel telah memaksa komandan militer Israel mencari solusi darurat di Amerika Serikat. Dalam sebuah langkah langka, Mayor Jenderal Nadav Lotan, komandan lapangan IDF, direncanakan akan bertolak ke Washington dalam beberapa hari mendatang untuk membahas pengadaan sistem pertahanan udara canggih yang mampu mengatasi ancaman drone taktis yang kian mematikan.

Dalam 24 jam terakhir, setidaknya enam serangan drone FPV (First Person View) berhasil menghantam pos-pos militer di utara Israel, termasuk sebuah landasan peluncuran Iron Dome di markas Jal al-Allam. Beberapa ledakan mengakibatkan luka-luka di kalangan prajurit, bahkan saat mereka berusaha mengevakuasi rekan-rekan mereka yang sebelumnya menjadi sasaran serangan serupa. Taktik Hizbullah kini semakin terstruktur: menyerang kelompok pasukan terlebih dahulu, lalu mengarahkan drone kedua ke titik evakuasi—menggandakan kerugian dan memperumit respons militer Israel.

Meski IDF selama ini mengklaim memiliki sistem deteksi dan intersep canggih, laporan dari KAN dan sumber militer senior mengungkapkan bahwa sistem yang ada belum mampu mengimbangi kecepatan, ketepatan, dan jumlah serangan drone yang kian masif. Drone-drone buatan Lebanon ini, beberapa di antaranya menggunakan teknologi serat optik yang sulit dideteksi radar konvensional, telah berhasil menghancurkan baterai Iron Dome dan menewaskan sejumlah perwira tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sendiri telah menyebut ancaman ini sebagai “ancaman besar” yang mengguncang kepercayaan publik terhadap kemampuan pertahanan nasional. Di tengah tekanan politik dan moral, militer Israel mengaku tidak membatasi anggaran dalam upaya merespons krisis ini. Sistem baru yang sedang dikembangkan, menurut sumber militer, dirancang setara dengan peringatan rudal anti-tank—namun kini dianggap belum cukup.

Kekhawatiran semakin membesar setelah laporan bahwa ribuan tentara Israel akan menyelesaikan kontrak mereka pada 2027, sementara serangan Hizbullah terus meningkat. Di lapangan, prajurit IDF terlihat semakin rapuh, dengan banyak yang menghindari posisi terbuka dan mengandalkan perlindungan bawah tanah. Di sisi lain, Hizbullah terus memperbaiki desain drone mereka—lebih ringan, lebih murah, dan lebih sulit dilacak.

Dengan kegagalan sistem pertahanan yang sudah diandalkan selama ini, Israel kini berpaling ke mitra utamanya: Amerika Serikat. Permintaan bantuan teknologi ini bukan sekadar permintaan alat, tapi sebuah pengakuan bahwa perang modern telah berubah—dan Israel, meski dikenal sebagai kekuatan militer paling canggih di Timur Tengah, kini harus belajar lagi dari awal.

Previous articleYouTube Luncurkan Fitur AI untuk Buat Feed Video Personal
Next articleHak Land Owner Kawasan Smelter PT Amman Belum Jelas, Tokoh Masyarakat Desak Sikap Pemda KSB
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik