Sumbawanews.com,- Jakarta — Iran secara tegas menutup pintu untuk pertemuan antara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meskipun Trump sebelumnya menyatakan adanya hubungan baik antara kedua pemimpin. Penolakan ini datang dari Mohsen Rezaei, penasihat militer Khamenei, yang menegaskan bahwa pertemuan semacam itu “tidak akan terjadi” dalam kondisi saat ini.
Rezaei menilai bahwa upaya negosiasi antara Teheran dan Washington telah terjebak dalam jalan buntu, terutama setelah pemerintahan Trump gagal mencairkan aset Iran senilai US$24 miliar yang dibekukan. “Tuan Trump membawa negosiasi ke jalan buntu. Ini tidak realistis,” tegasnya dalam pernyataan yang dikutip dari CNN, Sabtu (6/6).
Pernyataan itu merespons ucapan Trump beberapa hari sebelumnya yang menyebut pertemuan dengan Khamenei akan menjadi “kehormatan” baginya. Namun, di balik retorika diplomatik itu, ketegangan militer antara kedua negara justru memanas. Iran meluncurkan tujuh rudal balistik ke arah Bahrain dan Kuwait, menargetkan infrastruktur strategis termasuk Bandara Internasional Kuwait yang mengalami kerusakan parah. Respons AS pun tak kalah tegas: pasukan militer Amerika menyerang sejumlah situs radar dan fasilitas pesisir di Iran.
Ketegangan tidak terbatas pada Teluk Persia. Militer Iran mengancam akan memperluas operasi militernya ke luar kawasan—meliputi Selat Hormuz, Samudra Hindia, Selat Bab el-Mandeb, Laut Merah, hingga Laut Mediterania—jika AS terus memperkeruh situasi. Sementara itu, konflik regional semakin rumit dengan serangan Israel di Lebanon yang menewaskan lebih dari 20 orang, memicu kekhawatiran akan perluasan perang ke wilayah Levant.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membantah tuduhan Presiden Lebanon Joseph Aoun yang menuduh Teheran memanfaatkan Lebanon sebagai alat tawar dalam konflik dengan AS dan Israel. “Jika Lebanon adalah alat tawar kami, kesepakatan sudah lama tercapai,” tegas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak menganggap Lebanon sebagai permainan geopolitik.
Dengan ditutupnya kemungkinan pertemuan tingkat tertinggi, diplomasi antara AS dan Iran kini berada di titik terendah sejak tahun 2020. Meskipun kedua belah pihak masih membuka ruang untuk pembicaraan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kepercayaan telah runtuh—dan setiap langkah militer semakin menggantikan kata-kata.
Sementara Trump terus menyuarakan optimisme diplomatik, Iran memilih untuk bergerak dengan kekuatan, bukan janji. Di tengah ledakan rudal dan reruntuhan bandara, satu hal menjadi jelas: di Timur Tengah, kehormatan bukanlah soal pertemuan, tapi soal kekuatan yang diakui.

















