Sumbawanews.com,- Jakarta — Iran menegaskan bahwa kesepakatan damai baru dengan Amerika Serikat tidak mencakup program rudal balistiknya, meskipun perjanjian itu menandai terobosan signifikan dalam hubungan kedua negara yang sempat tegang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, secara tegas menyatakan bahwa senjata strategis milik Teheran tidak akan menjadi objek negosiasi.
“Rudal-rudal kami tidak dibahas oleh siapa pun. Mereka hanya untuk ditembakkan, bukan dirundingkan,” ujar Baghaei dalam wawancara dengan stasiun televisi nasional, Kamis (18/6). Ia menekankan bahwa kemampuan pertahanan Iran adalah garis merah yang tidak bisa diganggu gugat, baik dalam proses diplomatik apa pun atau oleh pihak manapun.
Pernyataan ini muncul setelah AS dan Iran menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di Swiss yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata yang meletus pada Februari 2026. MoU tersebut mencakup komitmen untuk menghentikan semua bentuk permusuhan, termasuk di Lebanon, serta kesepakatan terkait pembatasan program nuklir Iran dan pencabutan sebagian besar sanksi ekonomi AS terhadap Teheran. Namun, tidak ada satupun pasal yang menyentuh program rudal balistik Iran — sebuah isu yang selama ini menjadi titik rawan antara Washington dan sekutunya, Israel.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat menekankan bahwa Iran harus membahas persenjataan rudalnya sebagai syarat permanen bagi perdamaian, mengingat ancaman yang dianggapnya terhadap kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah. Namun, Iran menolak tegas permintaan itu, menyatakan bahwa rudal balistik adalah bagian tak terpisahkan dari kedaulatan dan deterrence nasional.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump justru menunjukkan sikap berbeda. Dalam pernyataan yang mengejutkan, Trump mengatakan bahwa keberadaan rudal balistik Iran tidak menjadi masalah, mengingat negara-negara tetangga di kawasan juga memiliki senjata serupa. “Jika negara lain punya, agak tidak adil jika mereka tidak punya juga,” ujar Trump pada Rabu (17/6), seperti dilansir Reuters.
Pernyataan Trump itu dianggap sebagai sinyal bahwa Washington mungkin bersedia menerima realitas kekuatan militer Iran sebagai bagian dari keseimbangan baru di Timur Tengah — meskipun pemerintah Teheran tetap menolak untuk mengakui bahwa ada ruang bagi negosiasi soal senjata strategisnya.
Kedua belah pihak masih melanjutkan pembicaraan teknis di Swiss, meskipun MoU telah ditandatangani. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan telah mengunggah foto resmi penandatanganan dokumen tersebut, menegaskan komitmen Teheran terhadap perdamaian — tetapi dengan batasan yang jelas: rudal balistik tetap di luar jangkauan diplomasi.















