Sumbawanews.com,- Empat ilmuwan top China dicopot dari jabatan akademiknya setelah investigasi mendalam mengungkap manipulasi dan fabrikasi data dalam sejumlah penelitian bergengsi yang diterbitkan di jurnal internasional ternama, termasuk Nature, Science Advances, dan Cell. Kasus ini memicu gelombang kecaman dan refleksi mendalam tentang tekanan publikasi di dunia akademik China.
Universitas Nankai memberhentikan Quan Chen dari posisinya sebagai dekan Fakultas Ilmu Hayati setelah menemukan kegagalan pengawasan terhadap data eksperimen dalam studi 2024 yang ia pimpin sebagai corresponding author di Nature Cancer. Pada waktu hampir bersamaan, Universitas Sun Yat-sen mencopot dua akademisi senior: Kang Tiebang, wakil direktur Laboratorium Kunci Nasional Onkologi China Selatan, yang terlibat dalam makalah bermasalah di Nature Cell Biology tahun 2020, serta Kuang Dongming, wakil dekan Fakultas Ilmu Hayati, yang diduga memanipulasi data dalam tiga penelitian berbeda di jurnal yang sama, ditambah Science Advances dan Cell.
Sebelumnya, Universitas Tongji telah lebih dulu mencopot Wang Ping, dekan Fakultas Ilmu Hayati dan peneliti kanker ternama, setelah ditemukan bukti fabrikasi data dalam penelitiannya yang sempat menjadi sorotan luas di Nature. Keempat tokoh ini bukanlah ilmuwan biasa—mereka adalah penerima National Science Fund for Distinguished Young Scholars, penghargaan paling prestisius bagi peneliti muda di China yang sering menjadi pintu masuk ke Akademi Sains China.
Yang paling mengejutkan, penyelidikan awal tidak berasal dari audit internal kampus, melainkan dari seorang mantan mahasiswa doktoral yang kini aktif sebagai pengamat sains di media sosial dengan nama samaran ‘Student Geng’. Dengan lebih dari 1,8 juta pengikut, Geng menggunakan alat sederhana seperti Microsoft Excel dan teknologi kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi pola data yang tidak wajar dan gambar yang dimanipulasi. Ia secara khusus memfokuskan penelitiannya pada publikasi di jurnal Nature yang ditulis oleh penerima penghargaan ilmiah bergengsi, dengan alasan bahwa mereka seharusnya menjadi contoh integritas tertinggi dalam sains.
Temuan Geng memicu perdebatan sengit di media sosial China dan memaksa sejumlah universitas untuk membuka penyelidikan resmi. Kantor berita pemerintah Xinhua menyambut positif peran Geng dalam meningkatkan kesadaran publik, tetapi menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga integritas riset tetap berada di tangan lembaga akademik, bukan media sosial.
Kasus ini mengungkap kembali tekanan sistemik yang menghantui akademisi China: publikasi di jurnal internasional papan atas menjadi penentu utama pendanaan, promosi, dan kelangsungan karier. Dalam sistem yang mengutamakan kuantitas di atas kualitas, sebagian ilmuwan tergoda untuk memalsukan hasil demi memenuhi target. Namun, rangkaian pencopotan ini menjadi pengingat tegas: reputasi ilmiah tidak dibangun dari jumlah publikasi, melainkan dari kejujuran dalam proses penelitian.

















