Home Berita Internasional El Nino Picu Krisis Pangan dan Tekanan Ekonomi di Asia Tenggara

El Nino Picu Krisis Pangan dan Tekanan Ekonomi di Asia Tenggara

Sumbawanews.com,- Jakarta – Fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai intensitas moderat hingga kuat sebelum Agustus 2026 mengancam ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi di seluruh Asia Tenggara. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur akan memicu kekeringan panjang, mengganggu pola hujan monsun yang menjadi tulang punggung pertanian di kawasan ini.

Dampaknya langsung terasa pada dua komoditas strategis: padi dan minyak sawit. Padi, makanan pokok bagi ratusan juta orang, sangat rentan terhadap kekurangan air. Di wilayah pertanian bergantung hujan, kekeringan lokal diperkirakan akan meluas, sementara sawah irigasi menghadapi tekanan akibat menurunnya volume waduk dan saluran irigasi. Menurut Paul Teng dari ISEAS–Yusof Ishak Institute, produksi beras di kawasan ini berpotensi turun 2% hingga 8% dibanding tahun normal, dengan Indonesia, Filipina, Thailand, dan Kamboja menjadi negara paling terdampak.

Minyak sawit, yang menyumbang 85% pasokan global dari Indonesia dan Malaysia, juga tak luput dari ancaman. Meski dampaknya baru terasa 6–12 bulan setelah kekeringan, penurunan pembentukan tandan buah segar dan efisiensi ekstraksi minyak akan memangkas pasokan. Ini terjadi di tengah kenaikan harga pupuk dan energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda.

Kombinasi ini memicu spiral inflasi. Di Filipina, inflasi pada Mei mencapai 6,8%, sementara Vietnam naik ke 5,6%. Di Indonesia, meski inflasi inti masih terkendali, kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi hingga 32% memperparah beban rumah tangga. Bank sentral kini terjepit: harus mempertahankan suku bunga tinggi untuk menahan inflasi, sementara dunia usaha dan anggaran pemerintah terbebani biaya pinjaman dan subsidi yang melonjak.

Sektor lain pun ikut terpukul. Suhu yang melampaui 40 derajat Celsius menggerus daya tarik pariwisata, sementara kekeringan memperbesar risiko kebakaran lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan. Kabut asap lintas batas yang dihasilkan berpotensi memicu krisis kesehatan publik dan ketegangan diplomatik antarnegara. Profesor Helena Varkkey dari Universiti Malaya memperingatkan bahwa pemerintah akan kesulitan menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan, terutama ketika petani dan perusahaan sudah terbebani biaya produksi tinggi.

Tekanan sosial pun mulai muncul. Di Indonesia, mahasiswa turun ke jalan memprotes kenaikan harga BBM dan pangan, menuntut kebijakan yang lebih adil. Di Filipina, ketegangan politik antarfraksi semakin memanas akibat kemarahan publik terhadap korupsi. Di Malaysia, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mempertimbangkan pemilu lebih awal jika koalisi pemerintahannya terus melemah.

“Kombinasi guncangan iklim dan geopolitik ini menghapus ruang fiskal yang tersisa,” kata Jason Lee dari Global Heat Health Information Network. “Sejarah menunjukkan, ketika harga beras dan bahan bakar melampaui ambang batas, kekecewaan masyarakat bisa berubah menjadi ketidakstabilan politik.”

Pemerintah masih memiliki waktu—tapi semakin sempit—for memperkuat cadangan pangan, mengoptimalkan distribusi subsidi, dan memberi peringatan dini kepada petani. Namun, dengan El Nino yang datang bersamaan dengan harga energi dan pupuk yang belum pulih, kawasan ini menghadapi ujian terberat dalam dekade terakhir: bukan hanya soal kelangkaan, tapi soal ketahanan sosial dan politik.

Previous articleCommodore Kembali dengan Smartphone yang Sengaja Tanpa Media Sosial
Next articleIran Peringatkan AS Jelang Kesepakatan Damai di Swiss
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.