Sumbawanews.com,- Washington D.C — Amerika Serikat dan Iran resmi menandatangani nota kesepahaman sementara untuk menghentikan konflik bersenjata yang telah memicu krisis global selama empat bulan. Kesepakatan yang ditandatangani secara digital pada Rabu (17/6/2026) itu menjadi titik balik setelah serangan militer AS yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah tokoh militer pada Februari lalu.
Dalam konferensi pers di sela KTT G7 di Prancis, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa perjanjian ini bukan akhir dari ketegangan, melainkan babak baru yang penuh syarat. “Kami tidak akan ragu membombardir mereka habis-habisan jika ada pelanggaran,” tegas Trump, menegaskan bahwa AS tetap siap melancarkan serangan balik jika Teheran melanggar 14 poin kesepakatan.
Perjanjian tersebut memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan pada April, dengan masa uji coba 60 hari untuk merumuskan kesepakatan damai permanen. Kedua belah pihak sepakat membuka jalur negosiasi langsung, termasuk pembahasan terkait program nuklir dan rudal balistik — yang sebelumnya menjadi pemicu utama konflik.
Menariknya, Trump mengubah nada retorikanya terhadap program rudal Iran. Ia mengakui bahwa larangan total terhadap rudal balistik Iran “tidak adil”, mengakui bahwa negara-negara lain di kawasan juga memiliki senjata serupa. Pernyataan ini menandai pergeseran strategis dari kebijakan “tekanan maksimal” yang selama ini menjadi ciri khas pemerintahannya.
Kesepakatan ini langsung memicu reaksi pasar global. Harga minyak mentah Brent sempat jatuh ke level di bawah USD 80 per barel, titik terendah sejak konflik meletus, karena pasar optimistis Selat Hormuz akan kembali bebas dari ancaman militer. Namun, kenaikan kembali lebih dari 1 persen terjadi setelah Trump mengingatkan bahwa AS masih menyimpan opsi militer jika proses perdamaian gagal.
Pejabat senior AS yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman ini bersifat sementara dan bisa ditarik kembali oleh kedua belah pihak sebelum disahkan sebagai perjanjian mengikat. Di sisi Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya “berkomitmen pada perdamaian, tetapi tidak akan mengorbankan kedaulatan nasional.”
Diplomasi ini juga membuka ruang bagi pemulihan ekonomi regional. Negara-negara pengimpor energi, terutama di Asia dan Afrika, mulai bernapas lega setelah harga energi melonjak hampir 40 persen akibat konflik. Sementara itu, pasar keuangan global menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski ketidakpastian tetap menggantung di atas kepala.
Namun, skeptisisme tetap menghantui. Para analis memperingatkan bahwa kepercayaan antara Washington dan Teheran masih sangat rapuh. Sejarah menunjukkan bahwa kesepakatan serupa pernah gagal di masa lalu — dan kali ini, ancaman militer Trump tetap menjadi bayangan yang tak bisa diabaikan.
Dengan masa uji coba hanya 60 hari, dunia kini menunggu: apakah perjanjian ini akan menjadi awal dari perdamaian abadi, atau hanya jeda sebelum badai berikutnya.















