Sumbawanews.com,- Amerika Serikat menjanjikan akses dana sebesar US$300 miliar (sekitar Rp5 kuadriliun) kepada Iran sebagai bagian dari kesepakatan damai yang telah dicapai secara virtual antara kedua negara. Dana ini, yang akan dipenuhi oleh koalisi negara-negara Teluk, ditujukan untuk rekonstruksi ekonomi Iran—dengan syarat utama: Teheran harus menghentikan seluruh program nuklirnya, menghilangkan stok uranium diperkaya, dan membuka akses penuh kepada pengawas internasional.
Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi komitmen ini dalam wawancara dengan CBS News, menegaskan bahwa AS tidak hanya mendukung, tetapi juga mendorong negara-negara Teluk untuk berinvestasi dalam pemulihan ekonomi Iran. “Kami terbuka lebar terhadap upaya regional untuk membantu Iran bangkit—asalkan mereka benar-benar menyerahkan senjata nuklirnya, bukan hanya berjanji,” ujar Vance, menekankan bahwa kepercayaan rakyat Amerika hanya bisa dibangun melalui transparansi dan verifikasi nyata.
Pernyataan ini menyusul penerbitan nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani secara daring oleh Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. MoU tersebut, yang akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni mendatang, mengikat kedua belah pihak untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak serangan besar-besaran AS-Israel pada 28 Februari lalu—serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan memicu gelombang kekerasan regional yang merenggut ribuan nyawa.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, mengutip isi MoU yang menyatakan bahwa AS dan sekutunya wajib menjamin pemulihan ekonomi Iran senilai minimal US$300 miliar. Sementara itu, Presiden Trump melalui akun Truth Social mengumumkan bahwa kapal-kapal pengangkut minyak telah kembali bergerak bebas melalui Selat Hormuz, tanda awal dari normalisasi perdagangan energi yang selama ini terganggu.
Kesepakatan ini tidak hanya mengubah peta keamanan Timur Tengah, tetapi juga menandai titik balik geopolitik: dari konfrontasi berkepanjangan menuju diplomasi yang dijamin oleh uang, pengawasan ketat, dan komitmen mutlak terhadap non-proliferasi nuklir. Dengan Iran yang kini berada di persimpangan antara pemulihan ekonomi dan kebebasan strategis, dunia menanti tindakan nyata—bukan hanya janji.















