Sumbawanews.com,- Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap situs radar dan drone milik Iran di Qeshm dan Goruk, sebagai respons atas ancaman militer yang meningkat. Sehari setelah serangan itu, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sebuah pangkalan udara AS di wilayah Timur Tengah, membalas serangan terhadap menara komunikasi di Pulau Sirik, Iran. Kedua pihak saling menuding sebagai agresor, dalam eskalasi terbaru yang memperdalam krisis selama 94 hari sejak dimulainya konflik antara AS-Israel dan Iran.
Presiden Donald Trump, dalam unggahan di Truth Social, menyatakan bahwa Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan” dan menjanjikan bahwa kesepakatan yang akan tercapai akan “menguntungkan bagi AS dan sekutu-sekutunya.” Pernyataan itu muncul setelah laporan media AS menyebut Trump menuntut syarat-syarat lebih ketat dalam rancangan kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa komunikasi diplomatik antara Teheran dan Washington masih berlangsung, meski menegaskan bahwa hak Iran atas pengayaan nuklir “tidak bisa dinegosiasikan.”
Di dalam Iran, produksi gas di lapangan South Pars—yang sebelumnya dirusak oleh serangan Israel pada Maret—telah pulih sepenuhnya. Namun, pemerintah tetap menghadapi tekanan domestik: dua pria dieksekusi atas dakwaan terlibat dalam protes anti-pemerintah pada Januari, termasuk pembakaran sebuah masjid di Tehran dan penyerangan aparat keamanan.
Di kawasan Teluk, Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menggagalkan serangan rudal dan drone “hostil” yang diluncurkan dari arah yang tidak diidentifikasi. Angkatan Bersenjata Kuwait menekankan bahwa suara ledakan yang terdengar di wilayahnya adalah hasil intersepsi rudal, bukan serangan yang berhasil mencapai sasaran.
Di Lebanon, Israel melanjutkan ofensifnya dengan mendorong pasukan lebih dalam ke wilayah selatan—mencapai kedalaman terdalam dalam lebih dari 25 tahun. Kelompok Hezbollah mengklaim telah menembak jatuh drone Hermes 450 milik Israel menggunakan rudal permukaan-udara, sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata sejak 8 April. Hezbollah juga melancarkan serangan roket dan artileri ke arah Yohmor al-Shaqif, menargetkan posisi pasukan Israel di perbatasan.
AS, dalam upaya mencegah perluasan konflik, mengusulkan rencana baru untuk meredakan ketegangan di Lebanon. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dikabarkan telah mengadakan pembicaraan terpisah dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Di dalam Israel, militer melaporkan berhasil mengintersep satu rudal yang diluncurkan dari Lebanon, yang memicu alarm udara di wilayah Galilea Barat dan Kiryat Shmona. Rudal itu, menurut laporan, diluncurkan dari lokasi yang kemudian dihancurkan oleh serangan balasan Israel.
Sementara itu, IRGC tidak memberi rincian pasti tentang lokasi pangkalan udara AS yang diserang, hanya menyebut bahwa lokasi itu digunakan untuk menyerang infrastruktur komunikasi di Iran. Ketegangan yang terus memanas ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang rapuh—di mana kedua belah pihak saling menyerang, namun tetap membuka saluran komunikasi untuk mencari jalan keluar dari perang yang semakin memburuk.















