Sumbawanews.com,- Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir sipil yang dianggap bersejarah, membuka jalan bagi kerajaan Teluk itu untuk mengembangkan program energi nuklir dalam negeri. Kesepakatan itu, disebut sebagai “peaceful nuclear co-operation agreement”, akan memungkinkan perusahaan-perusahaan AS terlibat dalam proyek infrastruktur nuklir Saudi, termasuk kemungkinan pembangunan fasilitas pengayaan uranium di wilayah Saudi. Perjanjian ini dilengkapi dengan bilateral safeguards agreement untuk menjamin standar keselamatan dan nonproliferasi nuklir, meski rincian teknisnya belum diungkap publik.
Kedua negara menyatakan kesepakatan ini sebagai perpanjangan dari kerja sama energi yang sudah ada, serta tindak lanjut dari kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke Washington pada November 2025. Namun, laporan media menyebut bahwa kesepakatan ini berbeda dari perjanjian serupa dengan Uni Emirat Arab pada 2009, karena memungkinkan Arab Saudi memperkaya uranium secara mandiri—langkah yang belum pernah dilakukan AS sebelumnya terhadap negara lain. Para ahli memperingatkan bahwa langkah ini berpotensi memicu risiko proliferasi nuklir di kawasan yang sudah tegang, terutama menyusul meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, serta serangan kelompok Houthi yang didukung Teheran terhadap Saudi.
Kekhawatiran muncul dari sejumlah pakar dan politisi, termasuk dari Israel dan Partai Demokrat AS, yang menilai bahwa kemampuan memperkaya uranium dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan senjata nuklir. Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan bahwa teknologi yang digunakan akan berasal dari ilmuwan terbaik AS dan memenuhi standar tertinggi nonproliferasi. Namun, Senator Edward Markey mengecam kebijakan ini sebagai kemunafikan, mengingat AS menentang program nuklir Iran sambil memberi akses serupa kepada Saudi. Kesepakatan ini kini akan menjalani tinjauan Kongres AS, di mana penolakan dari anggota Partai Republik maupun Demokrat diperkirakan akan muncul.
Arab Saudi telah melobi AS selama bertahun-tahun untuk kesepakatan semacam ini, dan syarat sebelumnya agar Riyadh mengakui Israel kini tidak lagi menjadi prasyarat. Analis menilai dorongan AS untuk menyelesaikan kesepakatan ini juga dipengaruhi oleh upaya Rusia dan China yang dikabarkan tengah membahas kerja sama nuklir serupa dengan Riyadh. Meski dampaknya belum langsung terlihat, kesepakatan ini diyakini akan mengubah peta kekuatan strategis di Timur Tengah dalam jangka panjang.















