Jember, Sumbawanews.com- Warga Desa Semboro dan Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami kelangkaan Gas elpiji 3 kg (melon,red). Bahkan di sejumlah agen dan kios juga kosong.
Belum diketahui secara pasti dari kelangkaan Gas elpiji 3 kg (melon) ini. Masyarakat harus mengadu pada siapa, mengingat, Gas elpiji ini merupakan kebutuhan pokok sehari-hari.

Untuk menyiasati kondisi ini, warga menggunakan tungku tradisional dengan kayu bakar, Namun, tidak semua rumah tangga memiliki tungku tersebut.
Menurut salah satu pengecer, Abdul Gofur, setiap pengecer hanya dapat jatah sekitar 14 tabung Gas elpiji 3 kg (melon) perminggu.
“Ya dapat, cuman dibatasi perminggu di warung-warung 15 biji, jadi orang-orang beli itu sehari itu habis. Jadi kita beli itu 22 ribu, dan jualnya ada yang 24 dan ada yang jual 25 ribu pertabung,”ujarnya.
Abdul Gofur menambahkan, isu yang selama ini berkembang di Semboro dengan harga 30 ribu pertabung, itu tidak benar, jadi saya sendiri menjual pertabung itu sekitar 24 sampai dengan harga 25 ribu itu aja,
dan paling tinggi di Semboro itu harga elpiji 25 ribu itu sudah tidak ada gas sama sekali.
Dibilang mahal itu, kata dia, alasannya tidak ada, bahannya tidak ada, cuman di jatah 15 tabung Gas elpiji, jadi kasihan masyarakat kalau tidak ada Gas elpiji dan cari kemana-mana tidak ada. Kelangkaan Gas elpiji ini terpaksa masyarakat ada yang menggunakan tungku untuk memasak.”pungkas Gofur.
Menurut Bibit (65) tahun, warga Sidomekar, dirinya juga muter-muter cari Gas elpiji 3 kg (melon), kemana-kemari juga tidak dapat. Jadi walaupun agak naik dikit ngak masalah yang penting ada barang lancar gitu loh, jadi kalau tidak ada Gas elpiji ya repot juga, mau pakai kayu, luwengnya sudah pada hancur.
“Harapan saya itu urusan masyarakat kecil itu di mudahkan, dan kenapa kok dipersulit kayak gini cari gas bingung kesana kemari sampai saya ke Tanggul juga sama tidak ada Gas elpiji juga sama pada kosong. Kalau sudah Gas elpiji pada kosong, kita mau masak juga ngak bisa karena tidak ada Gas nya.” kata Bibit.
Di tempat terpisah, Anik (26) tahun, warga Semboro lor sejak kemarin juga bingung mencari Gas elpiji kemana kemari juga belum mendapatkan elpiji. Akhirnya saya mendapatkan juga elpiji di warung dengan harga 24 ribu, tapi ngak apa-apalah yang penting persediaan di toko itu ada.
“Cuman, kalau bisa saya berharap pada pihak pemerintah terkait agar Gas elpiji tersebut minimal itu ada, dan kalau bisa di tempat Kios-kios maupun Agen resmi elpiji sekalipun harganya itu bisa di stabil kayak kemarin-kemarinnya dengan harga yang normal,” ungkapnya.
Karena seperti itu tambah dia,dirinya yang sehari-hari berjualan makanan ringan seperti gorengan sempol dan minuman segar kayak jas jus. Jadi kalau Gas elpiji itu selalu ada persediaan masyarakat tidak perlu bingung-bingung mencari kesana kemari seperti saat ini Gas elpiji mengalami kelangkaan.” ujarnya.
Sementara itu , Hudi Prihwiyanto sebagai Kepala Desa Sidomekar, dia menghimbau kepada warga masyarakat dengan langkah nya elpiji itu sejak bulan kemarin, yaitu pas saat bulan puasa.
“Ya kami menghimbau untuk seluruh warga masyarakat kami yang menggunakan elpiji, kalau bener-bener langka bahkan jalan arternatif yang lain ada yang menggunakan luweng atau dapur yang dulu menggunakan bahan bakar kayu,” terangnya.
” Insyaallah minggu-minggu ini mulai ada pengiriman elpiji terbatas, namun jatah satu pun menggunakan foto copy KT, jadi untuk warga sekali lagi saya himbau janga terlalu bingung terkait kelangkaan Gas elpiji,” jelasnya.
Ia menegaskan, Insyaallah untuk Gus Bupati sudah mengupayakan, dan insyaallah akan normal kembali di pertengahan bulan ini atau akhir bulan April ini. Jadi mohon untuk warga menggunakan dapur, dan menggunakan kayu bakar lagi.
Jadi pemerintah Jember sudah berupaya, dan terkait harga Gas elpiji itu memang ada harga Gas elpiji bervariasi.”pungkas Hudi.
(Indra)















