Sumbawanews.com,- Presiden Donald Trump mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyusul upaya Israel yang dinilainya menggagalkan proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam wawancara eksklusif dengan awak media, Trump menyatakan bahwa tanpa keputusannya selama masa kepresidenan sebelumnya, negara Israel mungkin tidak akan eksis dalam bentuknya saat ini.
“Tanpa saya, tidak akan ada Israel—karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang telah saya lakukan,” tegas Trump, mengacu pada kebijakan-kebijakan kontroversialnya seperti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada 2018.
Ketegangan antara kedua pemimpin memuncak seiring ketidaksepahaman strategis menjelang penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran di Swiss pada 19 Juni mendatang. Trump berkeras bahwa gencatan senjata di Lebanon—yang menjadi bagian integral dari kesepakatan tersebut—harus dipatuhi demi menstabilkan kawasan. Namun, Israel terus melancarkan serangan udara terhadap Hizbullah, kelompok bersenjata yang dianggap sebagai mitra strategis Teheran.
Netanyahu, yang telah memperpanjang masa jabatannya setelah kembali memimpin pemerintahan Israel, menghindari konfrontasi terbuka. Dalam pernyataannya sehari sebelumnya, ia mengakui adanya perbedaan pandangan dengan Trump. “Ada kalanya saya dan Presiden Trump tidak sejalan. Tapi saya bertanggung jawab atas keamanan Israel—dan itu harus diutamakan,” ujar Netanyahu, menghindari kritik langsung terhadap sang presiden AS.
Namun, Trump tidak menganggap sikap Israel sebagai kebijakan nasional semata. Ia menyalahkan Netanyahu secara pribadi, menuduhnya mengorbankan peluang damai demi kepentingan politik domestik. “Bibi harus lebih bertanggung jawab terkait Lebanon,” tegas Trump, menggunakan sapaan akrab untuk Netanyahu. Menurutnya, serangan berulang terhadap Hizbullah justru memperpanjang konflik dan merusak upaya diplomasi yang telah berbulan-bulan digodok.
Ketegangan ini makin memperuncing dinamika geopolitik di Timur Tengah. Iran, yang menuntut pengembalian aset senilai US$24 miliar sebagai syarat utama kesepakatan, menilai serangan Israel sebagai bentuk sabotase. Sementara itu, negara-negara seperti Turki dan Saudi Arabia memuji kemajuan diplomasi AS-Iran, namun mengingatkan agar Israel tidak mengacaukan prosesnya.
Trump bahkan mengklaim bahwa MoU antara AS dan Iran telah ditandatangani secara digital sebelum 19 Juni, dan Selat Hormuz—yang sempat diblokade selama konflik—akan segera dibuka kembali. Pernyataan ini belum dikonfirmasi oleh pihak Iran, namun memperkuat narasi Trump bahwa ia adalah satu-satunya pemimpin AS yang mampu mencapai kesepakatan sejarah dengan Teheran.
Sementara itu, Netanyahu terus mempertahankan posisinya bahwa keamanan Israel tidak bisa dikorbankan demi diplomasi internasional. Dalam pidatonya di Yerusalem, ia menegaskan: “Kami tidak memulai perang, tapi kami tidak akan berhenti mempertahankan diri.”
Perbedaan prinsip antara dua tokoh kuat ini kini menjadi ujian bagi stabilitas aliansi AS-Israel—sebuah hubungan yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dengan MoU AS-Iran yang sebentar lagi diumumkan, dunia menanti: apakah diplomasi akan menang, atau konflik akan terus berlanjut di bawah bayang-bayang keegoisan politik.















