Sumbawanews.com,- Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau akrab dipanggil Titiek Soeharto, menyaksikan langsung proses panen telur di peternakan ayam milik Lapas Terbuka Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dengan tangan yang penuh semangat, ia mengambil sekitar delapan butir telur dari kandang, lalu bertanya dengan antusias: “Ini yang omega ya?” Jawaban petugas pun disambut senyumnya—telur dari ayam yang dipelihara narapidana itu memang berasal dari kandang bertanda oranye, khusus untuk telur kaya omega-3.
Kehadiran Titiek di pulau yang dulu dikenal sebagai penjara paling ketat itu bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia turut meninjau peternakan bebek, serta menyaksikan lanskap baru Nusakambangan yang berubah drastis sejak Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) di bawah Menteri Agus Andrianto mengambil alih pengelolaan dari Kemenkumham. Di bawah kepemimpinan Menteri Agus, yang dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, Nusakambangan bertransformasi dari lokasi penahanan menjadi pusat pelatihan keterampilan dan ekonomi produktif.
Di sini, narapidana tidak hanya menjalani hukuman, tapi juga membangun masa depan. Di lahan-lahan yang sebelumnya tidur, kini berdiri balai latihan kerja (BLK) yang menghasilkan batako FABA, pupuk organik, mocaf, rokok linting, hingga kain konveksi. Budidaya ikan sidat, lele, nila, dan udang vaname mengisi kolam-kolam. Peternakan sapi, domba, dan unggas—termasuk 4.277 ekor ayam petelur dan 2.208 ekor bebek—berhasil memproduksi lebih dari 3.300 butir telur per hari. Semua hasilnya dijual ke vendor makanan lapas, pasar lokal Cilacap, bahkan hingga Hotel Aston.
“Selamat ya Pak Menteri,” ujar Titiek kepada Agus Andrianto yang mendampinginya, mengapresiasi inisiatif yang mengubah hukuman menjadi kesempatan. Ia menilai, program ini bukan sekadar pengembangan ekonomi, tapi strategi pencegahan kejahatan berulang. “Kalau mereka punya keterampilan dan pekerjaan, mereka tidak akan kembali ke jalan lama.”
Transformasi ini lahir dari laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang mengungkap banyak aset Kemenkumham yang menganggur. Menteri Agus memilih menjawabnya dengan aksi nyata: memberdayakan, bukan menghukum. Di Nusakambangan, setiap telur yang dipanen, setiap batu bata yang dicetak, setiap ikan yang dipanen, adalah simbol harapan—bukan hanya bagi narapidana, tapi bagi keluarga mereka dan masyarakat sekitar.
Kunjungan Titiek Soeharto itu bukan sekadar momen simbolis. Ia menjadi saksi bisu bahwa perubahan sistem pemasyarakatan bukanlah mimpi, tapi realitas yang sedang dibangun batu demi batu—bahkan di pulau yang dulu hanya dikenal sebagai tempat hukuman terberat.















