Sumbawanews.com,- Penemuan 18 individu ikan coelacanth (_Latimeria menadoensis_) di perairan Pulau Talise, Sulawesi Utara, memperkuat bukti ilmiah bahwa Indonesia menjadi salah satu habitat utama spesies purba yang telah bertahan selama 400 juta tahun. Temuan ini, yang diumumkan dalam Simposium “Marine Futures Unlocked 2” di Jakarta pada 23 Juli 2026, menjadi dasar pengusulan kawasan konservasi khusus di lokasi tersebut, dengan rencana jangka panjang menjadikannya Situs Warisan Dunia UNESCO. Peneliti dari Universitas Sam Ratulangi dan BRIN mendokumentasikan 11 individu hidup dalam satu gua bawah laut—jumlah terbanyak pernah dicatat sejak penelitian dimulai pada 2004—serta menemukan seekor juvenil berukuran 26 sentimeter di Teluk Amurang, yang mengindikasikan adanya proses reproduksi alami di wilayah tersebut.
Sejak 2004, tim peneliti telah mengidentifikasi 52 individu coelacanth di perairan Indonesia dan empat lainnya di Afrika Selatan melalui kolaborasi internasional. Ekspedisi terbaru yang melibatkan BRIN, OceanX, dan NHK memperluas pemahaman tentang sebaran spesies ini, yang mencakup wilayah dari Biak, Papua, hingga Buol, Sulawesi Tengah. Teknologi modern seperti _environmental DNA_ dan pemindaian CT Scan memperkaya data biologis: salah satu spesimen ditemukan membawa 22 butir telur, memberikan petunjuk langka tentang reproduksi ovovivipar spesies ini.
Alex Masengi dari Universitas Sam Ratulangi menegaskan bahwa temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, tetapi fondasi kebijakan konservasi. Augy Syahailatua dari BRIN menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah menyerahkan dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Juli 2026 untuk menetapkan perairan Pulau Talise sebagai kawasan konservasi habitat coelacanth. Jika ditetapkan, kawasan ini akan menjadi bagian dari Segitiga Terumbu Karang—pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di dunia—dan menjadi pintu masuk bagi riset, pendidikan, dan ekowisata berkelanjutan.















