Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto tertawa terbahak-bahak saat Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mendapat sambutan lebih gemuruh daripada dirinya sendiri di Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).
Ketika Prabowo memperkenalkan para menteri di panggung Sport Center Limboto, warga yang memadati arena teriak-teriak nama “Teddy!” sebelum nama itu disebutkan. Suara ribuan suara itu menggema, mengalahkan tepuk tangan yang mengalir saat Presiden muncul beberapa menit sebelumnya.
“Teddy, Teddy, Teddy!” teriak para petani, nelayan, dan perwakilan dari 34 provinsi, hingga suara itu nyaris menenggelamkan mikrofon.
Prabowo, yang mengenakan safari cokelat dan peci senada, terkesiap. Ia menatap ke arah Teddy yang berdiri di sampingnya, lalu mengangkat tangan seolah meminta ketenangan.
“Sekretaris Kabinet, Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya,” ujar Prabowo dengan nada bercanda, sambil menunjuk ke arah bawah.
Tak butuh waktu lama. Ledakan sorak dan tepuk tangan kembali meledak—lebih keras dari sebelumnya.
“Baru Letkol, kok disambut kayak begitu?” canda Prabowo, menatap langsung ke warga. “Yang presiden aku, tapi yang disambut malah dia.”
Tawa riuh memenuhi ruangan. Teddy, yang mengenakan kemeja putih, langsung berdiri, melambaikan tangan, dan tersenyum lebar. Ia tampak tak menyangka popularitasnya melebihi jabatan resminya di hadapan puluhan ribu rakyat yang datang dari pelosok Nusantara.
Aksi spontan ini menjadi momen paling hangat dalam acara yang seharusnya fokus pada penguatan ketahanan pangan dan inovasi pertanian. Tapi di tengah pidato teknis dan penandatanganan kerja sama, justru kekompakan warga terhadap seorang pejabat yang dikenal dekat dan merakyat menjadi sorotan utama.
Teddy, yang dikenal sering turun langsung ke lapangan, tak hanya dikenal sebagai birokrat. Ia akrab di kalangan petani, sering muncul di pasar tradisional, dan tak segan duduk bersila di warung kopi untuk mendengar keluh kesah rakyat. Di Gorontalo, ia bahkan sempat membantu memperbaiki jalan desa yang rusak akibat hujan deras—tak ada pengumuman resmi, tak ada kamera, hanya kerja nyata.
Prabowo, yang sejak awal menekankan pendekatan “pemerintahan kerakyatan”, tampak bangga. Ia tak menyalahkan sambutan yang lebih hangat untuk Teddy. Justru, ia menganggapnya sebagai bukti bahwa kerja keras yang tulus tak pernah lewat tanpa dihargai.
“Kalau rakyat lebih kenal dan lebih suka sama Teddy, itu tanda kita bekerja benar,” ujar Prabowo setelah acara, tanpa nada kecewa, justru dengan senyum puas.
Di tengah arus politik yang sering dipenuhi jargon dan pencitraan, momen ini menjadi pengingat sederhana: kekuatan sejati seorang pemimpin bukan pada jabatan, tapi pada kehadiran yang tulus—dan rakyat selalu tahu siapa yang benar-benar bersama mereka.
PENAS XVII sendiri berlangsung dengan sukses, menandatangani 17 kerja sama strategis antara pemerintah dan kelompok tani, serta meluncurkan program digitalisasi distribusi pupuk dan akses kredit pertanian bagi 500 ribu petani kecil. Tapi di hati warga, yang paling melekat bukanlah kebijakan, melainkan sorak-sorai yang menggema: “Teddy! Teddy! Teddy!”—dan tertawa Presiden yang ikut bergabung.















