Sumbawanews.com,- Suporter Argentina dilarang membawa atribut politik terkait Kepulauan Falklands (Malvinas) saat timnas Argentina menghadapi Inggris dalam semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium pada Kamis, 16 Juli 2026. Larangan ini diterapkan oleh otoritas keamanan Argentina dan FIFA sebagai upaya mencegah eskalasi ketegangan politik yang memanas menjelang laga klasik kedua negara. Menteri Keamanan Argentina, Alejandra Monteoliva, menegaskan bahwa semua bentuk simbol politik—termasuk bendera, kain, kaos, atau pesan provokatif—yang menyiratkan klaim terhadap Malvinas akan dilarang masuk ke stadion. Keputusan ini diambil menyusul pernyataan kontroversial dari Wakil Presiden Argentina Victoria Villaruel yang menyebut Inggris sebagai “penjajah” dan memicu aksi simbolis seperti pembakaran bendera Inggris oleh sekelompok suporter setelah kemenangan atas Swiss.
FIFA, yang secara tegas melarang segala bentuk propaganda politik dalam pertandingan resmi, telah memperkuat pengawasan di sekitar stadion bersama Kepolisian Atlanta, yang mengklasifikasikan pertandingan ini sebagai laga berisiko tinggi. Pengamanan diperketat di sekitar venue, kawasan hiburan, dan titik-titik keramaian untuk menjamin keamanan penonton dan wisatawan. Meski sejarah pertemuan Argentina-Inggris di Piala Dunia sarat kontroversi—mulai dari gol “Tangan Tuhan” Maradona pada 1986 hingga kartu merah Beckham di 1998—pelatih Argentina Lionel Scaloni menekankan bahwa laga ini harus dilihat semata sebagai pertandingan sepak bola. “Ini hanya pertandingan sepak bola. Kami menghadapi tim hebat, tapi ini tetap hanya sepak bola,” ujarnya.
Laga ini menjadi pertemuan pertama kedua tim di fase gugur Piala Dunia sejak 2002, dengan pemenangnya akan melawan Spanyol di final. Sementara itu, Inggris berusaha meraih tiket final pertama mereka sejak juara pada 1966, sementara Argentina berupaya mempertahankan gelar yang diraih di Qatar empat tahun lalu.















