Sumbawanews.com,- Tim pakar gabungan dari UGM dan UPN Veteran Yogyakarta mengidentifikasi dugaan kuat bahwa fenomena api misterius yang kerap membakar rumah warga di Dusun Kasuran, Seyegan, Sleman, berasal dari pelepasan gas metana dari tanah bekas rawa.
Sejak kejadian pertama dilaporkan, setidaknya 73 kali munculnya api tercatat di rumah milik Mutfiana—bahkan dalam satu hari, titik api bisa muncul hingga tujuh hingga sembilan kali di berbagai sudut rumah. Pakaian, kasur, perabot, hingga struktur bangunan ikut hangus tanpa jejak kebakaran konvensional seperti korsleting listrik atau kebocoran gas LPG.
Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap jaringan listrik, saluran air, dan instalasi rumah, tim menemukan tidak ada indikasi gangguan teknis yang bisa menjelaskan pola kebakaran yang acak dan berulang. Fokus penelitian kemudian beralih ke geologi tanah.
Prof. Alva Edy Tontowi, ketua tim, menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan lahan bekas rawa yang kaya akan material organik. Proses pembusukan alami material ini, dalam kondisi anaerobik, berpotensi menghasilkan gas metana—senyawa yang sangat mudah terbakar jika terlepas ke udara dan bercampur dengan oksigen dalam konsentrasi tertentu.
“Secara teori, metana bisa menyala tanpa sumber api eksplisit—hanya butuh sedikit percikan statis, suhu tinggi, atau bahkan gesekan partikel tanah. Tapi kami belum bisa memastikan mekanisme pastinya tanpa data laboratorium,” ujar Alva, Selasa (3/6/2026).
Tim juga mengambil puluhan sampel tanah, air sumur, dan air limbah untuk dianalisis di laboratorium. Penelitian multidisiplin ini melibatkan ahli geologi, teknik lingkungan, dan keselamatan kebakaran. Sardju Winardi dari Departemen Teknik Geologi UGM menambahkan, gas metana yang terperangkap di lapisan tanah bawah permukiman bisa tiba-tiba melepaskan diri melalui retakan atau pori-pori, terutama saat tekanan tanah berubah—misalnya akibat hujan deras atau aktivitas manusia.
Warga setempat, yang sebelumnya hidup dalam ketakutan akan api yang muncul tanpa sebab, kini menaruh harapan pada hasil pengujian laboratorium. Jika dugaan gas metana terbukti, langkah mitigasi seperti ventilasi tanah, pemantauan konsentrasi gas, atau bahkan relokasi sebagian permukiman bisa menjadi solusi.
“Kami tidak ingin lagi ada rumah yang terbakar karena sesuatu yang tak terlihat,” kata salah seorang warga.
Hasil penelitian diharapkan segera dirilis dalam waktu dekat, bukan hanya untuk menenangkan warga, tapi juga menjadi panduan bagi daerah lain yang berdiri di atas lahan bekas rawa—tempat di mana api bisa muncul bukan dari manusia, tapi dari bumi sendiri.















