Sumbawanews.com,- Dua pelatih Asia—Shin Tae Yong dan Mundari Karya—menjadi satu-satunya wakil benua Asia di antara 18 pelatih di Super League 2026/2027, di mana 13 pelatih berasal dari Eropa dan tiga dari Amerika Latin. Shin Tae Yong kembali ke dunia klub dengan menangani Persija Jakarta, sementara Mundari Karya kembali ke bench setelah delapan tahun mengabdi di belakang layar, memimpin Isenmulang Kalteng FC yang baru promosi.
Shin Tae Yong, yang pernah membawa Timnas Indonesia ke panggung internasional sebelum dipecat PSSI pada 2025, dipercaya mengembalikan kejayaan Persija yang redup dalam lima musim terakhir. Namun, catatan terakhirnya di level klub kurang meyakinkan: masa singkatnya bersama Ulsan Hyundai setelah meninggalkan tim nasional tidak membawa trofi. Meski pernah memenangkan Liga Champions Asia bersama Seongnam Ilhwa Chunma pada 2010, ia belum membuktikan ketajaman taktisnya di kompetisi domestik Indonesia. Ia pun harus menghadapi “kutukan” pelatih timnas yang gagal meraih kesuksesan saat beralih ke klub.
Sementara itu, Mundari Karya, yang sebelumnya menjadi anggota technical study group PSSI, kembali ke dunia kepelatihan klub setelah terakhir menangani tim pada 2016. Ia menggantikan Ade Suhendra, yang lisensi kepelatihannya masih level AFC A dan sedang mengejar lisensi Pro AFC. Isenmulang Kalteng FC, klub yang dulunya bernama Adyhaksa FC, tidak memiliki skuad kuat pasca-bursa transfer, dan menjadi tim promosi dengan prediksi sulit bertahan. Kepemimpinan Mundari akan diuji bukan hanya oleh kualitas tim, tetapi juga oleh dominasi pelatih Eropa dan Amerika Latin yang telah menguasai liga dalam empat musim terakhir.
Dengan hanya dua pelatih Asia di seluruh kompetisi, Shin dan Mundari menjadi simbol harapan bahwa pelatih lokal bisa menantang hegemoni asing. Tapi di liga yang penuh tekanan dan ekspektasi tinggi, mereka harus membuktikan bahwa pengalaman di level nasional bisa bertransformasi menjadi kesuksesan di kancah klub.















