Sumbawanews.com,- Dalam serangan udara paling masif sejak konflik berkecamuk, Rusia menyatakan berhasil menembak jatuh 660 drone milik Ukraina dalam satu malam. Klaim ini diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Rusia pada Jumat, 26 Juni 2026, melalui platform resmi Max, menyebut operasi pertahanan udara berjalan di lebih dari selusin wilayah, termasuk Moskow, Krimea, serta ruang udara di atas Laut Hitam dan Laut Azov.
Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengonfirmasi bahwa 47 drone berhasil dicegat di wilayah ibu kota. “Petugas darurat sedang membersihkan puing-puing dan memastikan keamanan warga,” ujarnya melalui saluran Telegram, menambahkan bahwa belum ada laporan korban jiwa. Namun, di Tula—sekitar 180 kilometer selatan Moskow—serangan drone menyebabkan kerusakan pada sebuah rumah warga di Distrik Shchekino, mengakibatkan satu perempuan terluka, menurut Gubernur Dmitry Milyaev.
Serangan ini merupakan bagian dari strategi Ukraina yang semakin agresif dalam memperluas jangkauan operasi drone jarak jauh. Sejak beberapa bulan terakhir, Kyiv fokus menargetkan infrastruktur energi Rusia—pabrik minyak, jaringan listrik, dan fasilitas logistik—sebagai upaya melemahkan sumber pendanaan perang Kremlin yang kini memasuki tahun kelima.
Pekan lalu, sebuah kilang minyak di wilayah tenggara Moskow terbakar akibat serangan serupa, memperkuat indikasi bahwa Ukraina tidak hanya bertahan, tetapi juga memperluas tekanan ke jantung ekonomi Rusia. Meski Rusia terus membanggakan sistem pertahanan udaranya, jumlah drone yang ditembak jatuh dalam satu malam ini mencatat rekor baru sejak invasi dimulai pada Februari 2022.
Analisis militer independen menunjukkan bahwa meski klaim Rusia sulit diverifikasi secara mandiri, tren serangan drone Ukraina memang meningkat signifikan dalam kuantitas maupun kompleksitas. Drone-drones tersebut, sebagian besar berbasis teknologi komersial yang dimodifikasi, kini mampu terbang lebih jauh, membawa muatan lebih berat, dan menggunakan sistem navigasi yang lebih canggih untuk menghindari deteksi radar.
Sementara itu, Ukraina belum memberikan pernyataan resmi terkait jumlah drone yang dikerahkan dalam operasi malam itu. Namun, para pejabat di Kyiv sebelumnya menyatakan bahwa serangan udara jarak jauh adalah bagian dari strategi “menguras sumber daya musuh” — sebuah pendekatan yang semakin efektif seiring perkembangan teknologi dan dukungan logistik dari sekutu Barat.
Dengan semakin seringnya serangan drone mencapai pusat-pusat kota Rusia, perang ini tidak lagi terbatas pada garis depan di timur. Ia telah berubah menjadi konflik yang mengguncang stabilitas domestik Rusia, di mana warga biasa kini hidup di bawah ancaman udara yang tak terduga—dan sistem pertahanan yang diklaim “tak terkalahkan” harus terus bekerja tanpa henti.














