Home Berita Internasional Risiko Cedera Otak Menghantui Tentara AS Pasca Konflik dengan Iran

Risiko Cedera Otak Menghantui Tentara AS Pasca Konflik dengan Iran

Sumbawanews.com,- Perang dengan Iran kembali menyoroti ancaman jangka panjang cedera otak traumatis (TBI) yang dialami tentara Amerika Serikat. Banyak prajurit yang mengalami ledakan di medan perang, tanpa luka tampak, justru mengidap gejala kronis bertahun-tahun kemudian—mulai dari migrain, kehilangan memori, hingga gangguan konsentrasi yang menghancurkan kehidupan pribadi dan keluarga.

Joe Shearer, mantan anggota Korps Marinir AS, mengalami dua ledakan di Irak pada 2005: satu akibat mortir yang membuatnya muntah, dan lainnya dari bom pinggir jalan yang mengguncang Humvee yang ditumpanginya. Ia kembali bertugas meski mengalami sakit kepala berkepanjangan. Baru pada usia 40 tahun, ia didiagnosis menderita TBI. Kini, ia terus berjuang dengan vertigo, sensitivitas terhadap cahaya, dan lupa percakapan penting dengan keluarganya. “Saya tahu ini terdengar stereotip, tapi bagi saya, rasanya berbeda. Tidak ada ingatan bahwa percakapan itu pernah terjadi,” ujarnya.

Pengalaman serupa dialami Frank Sonntag, veteran Angkatan Darat yang terkena gelombang kejut mortir di Irak pada 2004. Ia tidak menyadari cedera itu hingga dua tahun kemudian, ketika ia kesulitan menulis email dan berbicara satu kata setiap 10 detik. Spencer Milo, yang mengalami TBI akibat tabrakan Humvee di Irak (2008) dan ledakan bom bunuh diri di Afghanistan (2011), mengatakan sulit meyakinkan rekan-rekannya bahwa cedera tak terlihat itu nyata. “Saya benar-benar berharap sesederhana itu. Ini sulit karena ketika sesuatu tidak bisa dilihat, sulit untuk percaya bahwa itu benar-benar ada.”

Hampir 700 tentara AS terluka akibat serangan drone dan rudal Iran di pangkalan Timur Tengah, sebagian besar didiagnosis mengalami gegar otak ringan. Namun, dokter belum mampu memprediksi siapa yang akan mengalami dampak jangka panjang. Ledakan gelombang kejut, berbeda dengan benturan fisik, dapat merusak sel otak secara halus namun mendalam. “Ini merupakan cedera sel yang berbeda,” kata Dr. James Kelly, profesor emeritus neurologi di University of Colorado.

Pentagon menyatakan kebijakan wajib pemeriksaan TBI berlaku bagi semua anggota militer yang terpapar ledakan. Namun, budaya militer yang menganggap mengeluh sebagai tanda kelemahan membuat banyak prajurit menyembunyikan gejala. Lebih dari 500.000 kasus TBI tercatat sejak 2000 hingga 2025, dengan 82 persen diklasifikasikan ringan—tapi para ahli meyakini angka sebenarnya lebih tinggi karena gejala sering tumpang tindih dengan PTSD.

Para ahli menekankan bahwa otak memiliki kemampuan beradaptasi. Terapi bicara, fisik, dan seni telah membantu banyak veteran memulihkan fungsi kognitif. “Kita tahu jalur saraf baru dapat terbentuk. Kita benar-benar percaya bahwa otak dapat beradaptasi,” kata Kelly Parker dari Wounded Warrior Project. Namun, bagi banyak veteran, perjalanan penyembuhan masih panjang—dan tak terlihat oleh mata.

Previous articleEliano Reijnders Dinilai Tak Berguna, Timnas Indonesia Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026
Next articleGonta-Ganti Kiper, Herdman Tekankan Persaingan Sehat di Timnas Indonesia