Sumbawanews.com,- Legenda Manchester United dan mantan kapten Timnas Inggris, Rio Ferdinand, angkat suara mengecam narasi media yang berlebihan dan tidak seimbang terhadap timnya di Piala Dunia 2026. Kekesalannya menyusul imbang 0-0 melawan Ghana di matchday kedua Grup L, yang memicu gelombang kritik terhadap pelatih Thomas Tuchel dan keputusan seleksi pemain.
Sebelumnya, kemenangan telak 4-2 atas Kroasia membuat Tuchel dipuja sebagai “genius” oleh sejumlah media. Namun, setelah hasil imbang melawan Ghana, narasi berbalik 180 derajat—khususnya dari akun Sky Sports yang diwakili koresponden Kaveh Solhekol, yang kembali menggugat keputusan tidak memanggil Cole Palmer, Trent Alexander-Arnold, dan Morgan Gibbs-White.
Ferdinand, yang kini berusia 47 tahun, langsung merespons lewat media sosial dengan nada tajam namun penuh kebijaksanaan. “Ini lagi… Tuchel setelah lawan Kroasia disebut genius, lalu setelah lawan Ghana disebut salah pilih pemain?” tulisnya, disertai emoticon tertawa. “Kita sudah punya empat poin. Santai saja. Dukung tim dan manajernya.”
Pernyataannya bukan sekadar kemarahan spontan, tapi seruan untuk melihat realitas di lapangan: Inggris tetap memimpin Grup L bersama Ghana, dengan catatan tiga pertandingan belum selesai. Dua hasil—menang atas Kroasia dan imbang melawan Ghana—menunjukkan ketahanan tim, bukan kegagalan strategi.
Pandangan Ferdinand didukung oleh mantan striker Timnas Inggris, Michael Owen, yang dalam kolomnya di Daily Mail menekankan bahwa para pemain di dalam kamar ganti jauh lebih fokus pada perkembangan tim dan dinamika permainan, bukan judul-judul sensasional yang dibuat untuk klik.
“Kritik mudah diberikan, tapi dukungan yang konsisten justru yang dibutuhkan saat tekanan mulai menggigit,” ujar Owen, menyoroti betapa cepatnya opini publik bisa berubah hanya karena satu hasil imbang.
Ferdinand sendiri pernah menjadi bagian dari era kejayaan Inggris di Piala Dunia 2002 dan 2006, dan memahami betul bagaimana tekanan media bisa menggerogoti kepercayaan tim. Ia menekankan bahwa keputusan Tuchel—meski kontroversial—adalah bagian dari proses adaptasi, bukan kegagalan. Pemain seperti Bukayo Saka, Jude Bellingham, dan Declan Rice tetap tampil solid, sementara pertahanan yang diisi Harry Maguire dan John Stones masih menunjukkan kedisiplinan.
Dalam klasemen sementara, Inggris dan Ghana sama-sama mengoleksi empat poin, dengan Croatia di posisi tiga dengan tiga poin. Pertandingan terakhir melawan Panama akan menentukan nasib mereka di fase gugur. Dengan begitu, menurut Ferdinand, bukan saatnya memperdebatkan siapa yang “salah pilih”, tapi membangun solidaritas.
“Kami bukan tim sempurna. Tapi kami juga bukan tim yang runtuh,” katanya. “Di Piala Dunia, yang menang bukan yang paling banyak dipuji—tapi yang paling tahan banting.”
Sementara itu, pelatih Tuchel tetap tenang. Dalam konferensi pers usai laga, ia menyatakan bahwa timnya “tidak terganggu oleh suara-suara di luar,” dan bahwa “keputusan teknis selalu dinilai berdasarkan data, bukan emosi.”
Dengan demikian, perdebatan antara narasi media dan realitas lapangan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari Piala Dunia 2026—dan Rio Ferdinand, dengan suaranya yang jernih, telah memilih sisi yang benar-benar penting: dukungan, bukan hujatan.















