Sumbawanews.com,- Terungkap bahwa Rifaldy Fajar, seorang terduga pelaku fabrikasi penelitian ilmiah, secara sengaja mencatut nama Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) dalam 51 abstrak riset palsu yang dipublikasikan di berbagai konferensi internasional. Dalam klarifikasi berupa video yang diunggah resmi oleh UMB pada 3 Juni 2026, Rifaldy meminta maaf secara terbuka dan mengakui bahwa seluruh afiliasi yang menyebut nama ibunya, Elfiany Syafruddin, sebagai dosen UMB diberikan tanpa izin—padahal ibunya sudah tidak lagi terdaftar sebagai tenaga pengajar di kampus tersebut sejak lama.
Riset-riset yang dipalsukan itu, menurut penyelidikan, dibuat dengan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menghasilkan data dan temuan fiktif. Tujuannya jelas: memenuhi syarat mengikuti seminar global seperti International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, demi memperoleh bantuan biaya perjalanan atau *travel grant*. Bersama dua rekannya, Prihantini dan Rini Winarti, Rifaldy tertangkap basah saat hadir dalam acara tersebut pada 17–21 Mei 2026, memicu gelombang kecaman di media sosial dan memicu investigasi resmi.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UMB segera merespons dengan melayangkan surat somasi, menuntut penarikan total semua publikasi yang menyertakan nama kampus. Dalam Berita Acara Klarifikasi tertanggal 3 Juni 2026, Rifaldy secara tertulis berjanji akan menarik seluruh abstrak, paper, dan jurnal yang mencantumkan UMB sebagai afiliasi paling lambat pada 30 Juni 2026. Ia juga menyatakan siap menanggung segala konsekuensi hukum dan etis atas perbuatannya.
Kasus ini bukan hanya soal pelanggaran akademik, tapi juga menggoyahkan kepercayaan publik terhadap integritas penelitian ilmiah di Indonesia. Padahal, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) baru saja membentuk tim khusus untuk mengusut dugaan riset palsu yang melibatkan sejumlah peneliti tanpa kaitan resmi dengan institusi pendidikan. Kini, UMB menjadi simbol korban yang berusaha memulihkan reputasi akademiknya, sementara Rifaldy berada di titik nadir kepercayaan—dengan janji penarikan yang menjadi ujian terakhir integritasnya.
Pihak UMB menegaskan bahwa tidak ada keterlibatan resmi dari siapa pun di lingkungan kampus dalam proses pembuatan atau penerbitan riset-riset tersebut. Elfiany Syafruddin, yang disebut sebagai penulis utama dalam sebagian besar abstrak, juga tidak pernah terlibat dalam penelitian yang dimaksud. Kini, seluruh pihak menanti bukti nyata dari upaya penarikan yang dijanjikan—karena dalam dunia akademik, kepercayaan lebih sulit dipulihkan daripada data yang dipalsukan.

















