Sumbawanews.com,- Serangan drone masif oleh Ukraina mengguncang Rusia pada Sabtu (7/6/2026), bertepatan dengan berlangsungnya Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg (SPIEF 2026). Lebih dari 376 drone ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Rusia di berbagai wilayah, termasuk di sekitar Saint Petersburg, ibu kota budaya dan ekonomi yang sedang menjadi pusat perhatian dunia. Satu warga tewas akibat puing drone yang jatuh di wilayah Tver, sementara kebakaran melanda depot minyak di Ust-Labinsk, selatan Rusia.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan itu melibatkan wilayah strategis seperti Belgorod, Bryansk, Kursk, Leningrad, Moskow, Krimea, serta ruang udara di Laut Azov dan Laut Hitam. Di Leningrad, gubernur Aleksandr Drozdenko mengonfirmasi 140 drone berhasil dihancurkan dalam serangan yang menargetkan pangkalan angkatan laut Kronstadt dan Gudang Senjata ke-15 Angkatan Laut Rusia. Gubernur Saint Petersburg Alexander Beglov mengeluarkan imbauan langka agar warga tetap di dalam rumah, meski tidak ada kerusakan besar yang dilaporkan—tiga orang mengalami luka ringan dan telah diperbolehkan pulang.
Di sisi lain, Ukraina membela operasi ini sebagai respons “adil” terhadap agresi militer Rusia. Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan dalam unggahan di platform X bahwa “penguasa Rusia masih memilih perang, bukan diplomasi.” Serangan ini terjadi sehari setelah Presiden Vladimir Putin menolak ajakan pertemuan langsung dengan Zelenskyy, dengan alasan belum ada kemajuan substansial dalam negosiasi damai. Putin menyatakan dalam pidato pembukaan SPIEF bahwa pertemuan tingkat tinggi tanpa dasar kesepakatan konkret hanya akan menjadi “pameran simbolis.”
Respons internasional pun memanas. Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga mengecam sikap Moskow yang dianggap sengaja menghambat jalan diplomasi. Sementara itu, Rusia tidak tinggal diam: pada pagi hari yang sama, serangan drone dan artileri Rusia menewaskan seorang pria berusia 64 tahun di Mykolaiv, Ukraina, dan melukai seorang anak laki-laki berusia 10 tahun beserta ayahnya di Zaporizhzhia. Di Dnipropetrovsk, satu orang tewas dan tiga lainnya terluka akibat serangan serupa.
Perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun sejak invasi penuh Rusia pada Februari 2022 kini memasuki fase baru: serangan lintas batas dengan drone menjadi senjata utama kedua belah pihak. Dengan SPIEF 2026 yang dihadiri ratusan pemimpin bisnis dan diplomatik global, serangan ini bukan sekadar operasi militer—tapi pesan politik yang jelas: tidak ada tempat aman bagi Rusia, bahkan di tengah pesta ekonomi terbesarnya.
Di tengah mandeknya upaya mediasi Amerika Serikat, kedua negara terus memperdalam ketergantungan pada teknologi perang tak berawak. Dengan ratusan drone yang diluncurkan dalam satu hari, perang ini bukan lagi soal front garis depan—tapi soal ketahanan infrastruktur, keberanian sipil, dan keteguhan tekad yang diuji di setiap langit yang gelap oleh kehadiran drone.

















