Sumbawanews.com,- Liga Tenis Indonesia 2026 Seri 2 berakhir dengan kejutan besar di Lapangan Tenis Jatayu Mabes AU, Jakarta Timur, pada 14–17 Oktober 2026. Gadis berusia 14 tahun, Quorra Princy, menjadi bintang sekaligus pencetak sejarah dengan meraih dua gelar sekaligus: juara tunggal putri dan ganda putri bersama Callista Rosiana. Di sektor putra, Claudio Renardi menang di tunggal, sementara Michal Ihsan dan Raphael Rio Suryana menjadi juara ganda.
Di final tunggal putri, Quorra mengalahkan rekan satu timnya, Callista Rosiana, dengan skor meyakinkan 6–2, 6–3 pada Minggu pagi (18/10/2026). Tak berhenti di situ, pasangan Quorra/Callista kembali menunjukkan dominasi di final ganda putri, menghancurkan Fajrina Aurelia/Dinda Nurmayandha dengan skor 6–1, 6–1 pada siang harinya. Quorra mengaku gelar ganda itu di luar dugaan, mengingat persaingan yang ketat di sepanjang turnamen.
Di sektor putra, Claudio Renardi merebut gelar tunggal setelah mengalahkan Akmal Junaini dengan skor 6–3, 6–4. Sementara di ganda putra, Michal Ihsan dan Raphael Rio Suryana menang atas Rizky Varellito/Ragil Putra dengan dua game langsung, 6–3, 6–4.
Sekretaris Jenderal PP Pelti, Andi Fajar Asti, menyatakan kepuasan atas munculnya pemain muda berbakat seperti Quorra. “Alhamdulillah seri 2 ini memberikan hasil yang mengejutkan. Kita lihat Quorra berhasil juara di dua nomor sekaligus. Tentu ini kejutan yang saya maksud dan tunggu-tunggu. Pemain yang baru 14 tahun sudah bisa dominan seperti ini. Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua bila pembinaan sangat penting,” ujarnya.
Ketua Dewan Penasehat Pelti, Mayjen TNI Arkamelvi Karmani, menegaskan pentingnya kontinuitas kompetisi untuk mengasah bakat atlet muda. “Saya bersyukur muncul bibit baru di Liga Tenis Indonesia 2026. Ini tugas Pelti untuk terus mengadakan pertandingan agar atlet bisa terasah kemampuannya,” paparnya.
Turnamen yang digelar sebagai bagian dari program pembinaan jangka panjang ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan tenis putri dan putra Indonesia di level nasional, sekaligus menjadi indikator awal potensi atlet muda untuk bersaing di kancah internasional.















