Sumbawanews.com,- Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan percakapan telepon selama 90 menit pada Jumat, 9 Oktober 2026, dengan suasana akrab yang membuat keduanya menutup sambungan secara bersamaan. Pembicaraan fokus pada kemungkinan penyelesaian perang Rusia-Ukraina dan kerja sama energi, termasuk kesepakatan pasokan BBM diesel Rusia ke pasar AS dan internasional. Kesepakatan itu, yang diumumkan Trump melalui Truth Social, mencakup pengiriman lebih dari 300 ribu ton diesel segera, ditambah 500 ribu ton pada November, dan satu juta ton berikutnya—dengan potensi total hingga 4,8 juta ton. Namun, pelonggaran sanksi AS terhadap impor diesel Rusia langsung memicu kemarahan Ukraina, yang menilai langkah itu sebagai hadiah tak adil bagi Moskow di tengah perundingan damai.
Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menggambarkan percakapan itu sebagai “sangat substantif dan bersahabat,” dengan kedua pemimpin saling enggan mengakhiri telepon. Ushakov menambahkan bahwa Trump disebut menyatakan kesediaannya untuk terus berbicara dengan Putin sepanjang hari, malam, hingga keesokan harinya. Sementara itu, Departemen Keuangan AS mengeluarkan General License Nomor 135 pada 9 Oktober, yang mengizinkan transaksi terkait impor diesel Rusia hingga 7 April 2027—meski sanksi terhadap Bank Sentral Rusia, Dana Kekayaan Nasional, dan Kementerian Keuangan tetap berlaku.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan kekecewaan mendalam, menyebut kesepakatan itu sebagai “hadiah ulang tahun yang menyenangkan bagi Putin” dan menilainya sebagai tindakan tidak jujur terhadap Ukraina. Ia mengibaratkan perkembangan ini sebagai pengulangan pertemuan Trump-Putin di Alaska pada Agustus 2025, di mana AS dianggap memberi keuntungan tanpa memperoleh konsesi signifikan dari Rusia untuk menghentikan perang. Zelenskyy menekankan bahwa keputusan itu diumumkan saat delegasi Ukraina sedang membahas proposal perdamaian dengan AS, memperdalam ketegangan diplomatik.















