Sumbawanews.com,- Amerika Serikat menyetujui penjualan 500 rudal Patriot ke Ukraina senilai US$ 2,1 miliar, dengan pendanaan sepenuhnya berasal dari sekutu Eropa dan Kanada. Rudal pencegat canggih PAC-3 itu ditujukan untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina menghadapi serangan rudal balistik Rusia yang semakin intensif, terutama menjelang musim dingin. Namun, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa pengiriman rudal tersebut kemungkinan akan memakan waktu bertahun-tahun karena keterbatasan kapasitas produksi. Pemerintah AS menegaskan tidak menggunakan dana anggaran negara, melainkan memfasilitasi transaksi melalui program JUMPSTART dan pinjaman Uni Eropa, dengan Lockheed Martin sebagai kontraktor utama.
Produksi rudal Patriot saat ini hanya mampu menghasilkan sekitar 600 unit per tahun, sehingga pesanan 500 rudal baru tidak bisa dipenuhi dalam waktu dekat. Zelensky menekankan kebutuhan mendesak akan sistem pertahanan ini, menyebut pasokan rudal yang tersedia di Ukraina semakin menipis. Dalam dua pekan terakhir, Rusia telah melancarkan lebih dari 30 serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina. Meski persetujuan penjualan telah diberikan, belum ada jadwal pasti kapan rudal-rudal tersebut akan tiba di medan perang.
Ketegangan sebelumnya antara Washington dan Kyiv, yang dipicu oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang melonggarkan sanksi terhadap Rusia dan menyatakan Ukraina perlu pemimpin baru, telah mereda setelah pertemuan antara Zelensky dan utusan AS di Oslo pada 20 Oktober. Sementara itu, di tengah pertemuan G20 di Atlanta, sejumlah diplomat Eropa memprotes kehadiran Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dengan menolak berdiri dalam sesi foto resmi. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband secara terbuka menuduh Moskow sebagai agresor dalam perang ini dan menyalahkan pemerintah Rusia atas kematian warga sipil di Ukraina.















