Sumbawanews.com,- Timnas Prancis gagal melangkah ke final Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Spanyol 0-2 pada laga semifinal di Stadion Dallas, Texas, pada Rabu, 15 Juli 2026. Kekalahan itu memicu gelombang kritik tajam dari media Prancis, yang menuding lini tengah Les Bleus sebagai titik lemah utama, dengan gelandang Real Madrid, Aurélien Tchouaméni, menjadi fokus utama sorotan.
Media seperti Foot Mercato menilai performa Tchouaméni jauh di bawah ekspektasi, di mana ia kerap gagal mengendalikan tempo permainan, melakukan kesalahan umpan, dan kehilangan kemampuan memecah garis pertahanan lawan. Ia lebih banyak berada sejajar dengan bek tengah, hanya berperan sebagai distributor bola dari belakang, tanpa memberikan kreativitas yang dibutuhkan di lini tengah. Keputusan pelatih Didier Deschamps untuk memainkannya sebagai starter, setelah sebelumnya absen dari dua laga penting melawan Paraguay dan Maroko, dianggap sebagai “kegagalan fatal” oleh sejumlah analis.
Kritik juga menyasar keputusan Deschamps yang memilih mengorbankan Manu Koné, gelandang AS Roma yang tampil impresif di babak 16 besar dan perempat final. Koné, yang sebelumnya berduet solid dengan Adrien Rabiot, terpaksa duduk di bangku cadangan, sementara Tchouaméni yang dinilai belum sepenuhnya pulih dari kelelahan fisik justru dipercaya memulai laga dari menit pertama.
Performa buruk Tchouaméni menjadi simbol dari kegagalan keseluruhan lini tengah Prancis dalam menghadapi dominasi permainan Spanyol. Media lokal menyebut kekalahan ini bukan hanya karena serangan yang mandek, tetapi juga karena kehilangan kendali di tengah lapangan—sesuatu yang seharusnya menjadi kekuatan utama tim asuhan Deschamps.















