Sumbawanews.com,- Persib Bandung akan menghadapi tantangan luar biasa pada musim 2026/2027, dengan menjalani empat kompetisi sekaligus—Super League, League Cup, ASEAN Club Championship, dan AFC Champions League 2—sebagai juara bertahan. Di bawah arahan pelatih baru Igor Tolic, Pangeran Biru harus membagi fokus dan energi di tengah jadwal yang padat, mulai dari ajang domestik hingga kancah Asia Tenggara dan Asia.
Di Super League, Persib akan membuka musim pada 6 September 2026 dengan laga tandang melawan PSM. Sebagai juara bertahan, mereka menjadi target utama rival-rival yang memperkuat skuad demi menggoyang dominasi Maung Bandung. Di League Cup, ajang baru di sepak bola Indonesia, Persib mendapat keistimewaan: tidak bermain di babak awal. Bersama Borneo FC, yang finis runner-up musim lalu, Persib baru tampil pada babak delapan besar pada akhir Januari 2027, sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi mereka di kompetisi Asia.
Puncak tantangan datang dari ajang regional: ASEAN Club Championship 2026/2027. Ini adalah penampilan pertama Persib di turnamen antarklub Asia Tenggara. Mereka tergabung di Grup B bersama Port FC (Thailand), Johor Darul Ta’zim (Malaysia), Lion City Sailors (Singapura), dan Cong An Ha Noi (Vietnam). Laga perdana Persib di kompetisi ini akan berlangsung pada 8 Oktober 2026, saat bertandang ke Stadion PAT di Bangkok melawan Port FC.
Di level Asia tertinggi, Persib wajib melewati ujian berat di AFC Champions League 2. Seperti musim sebelumnya, mereka harus melalui babak play-off untuk lolos ke fase grup. Lawan pertama mereka adalah Manila Digger, juara liga Filipina, dalam laga tunggal yang akan berlangsung pada 31 Agustus 2026 di Stadion Si Jalak Harupat. Kemenangan memastikan Persib melangkah ke fase grup; kekalahan berarti terhenti di pintu gerbang Asia.
Dengan empat kompetisi berjalan beriringan dari Agustus hingga Januari, Persib harus mengelola rotasi pemain, fisik, dan strategi dengan presisi tinggi—tak hanya untuk bertahan, tapi untuk membuktikan bahwa gelar juara bukan sekadar keberuntungan, melainkan konsistensi di tengah tekanan terberat dalam sejarah modern klub.















