Sumbawanews.com,- Menjelang puncak belanja akhir tahun pada kuartal keempat 2026, pelaku bisnis di TikTok Shop dihadapkan pada tantangan mengoptimalkan kampanye iklan agar tepat sasaran. TikTok dan Agile Advertising menggelar seminar “It’s A Match” di Jakarta untuk membantu seller meningkatkan omset melalui pendekatan berbasis data, bukan asumsi. Managing Director Agile Advertising, Ryan Sidharta, menegaskan bahwa masalah utama bukan pada jangkauan iklan, melainkan ketidakcocokan antara produk, audiens, dan pesan yang disampaikan. Banyak seller mengalami peningkatan jumlah pesanan tetapi pendapatan stagnan karena gagal memperbaiki ukuran keranjang belanja dan tingkat konversi toko.
Agile Advertising, yang telah menangani lebih dari 100 merek setiap bulan sejak berdiri pada 2023, menerapkan tiga metodologi terstruktur: Attempt, Analyze, dan Amplify. Pertama, Attempt melibatkan pengujian terukur untuk menemukan kombinasi materi iklan dan audiens terbaik. Kedua, Analyze fokus pada analisis mendalam data kinerja untuk mengidentifikasi titik impas ROAS (Return on Ad Spend) dan efisiensi penjualan. Ketiga, Amplify memperluas skala anggaran secara progresif menggunakan alat iklan otomatis TikTok Shop bernama GMV Max, yang mengoptimalkan pendapatan kotor berdasarkan target ROI yang ditetapkan, tanpa mengorbankan margin keuntungan bersih.
Pelaku usaha diminta segera menyesuaikan strategi berdasarkan data faktual, karena dinamika perilaku konsumen bergerak cepat dan kesalahan dalam targeting dapat mengurangi profitabilitas meski volume penjualan naik.















