Sumbawanews.com,- Mantan penasihat Bank Sentral Rusia Alexandra Prokopenko dan profesor sejarah global Universitas Oxford Peter Frankopan memperingatkan bahwa perang di Ukraina kini berbalik menjadi ancaman struktural bagi stabilitas rezim Vladimir Putin. Tekanan ekonomi, kegagalan fiskal, dan melemahnya legitimasi internal mulai mengikis kekuatan Kremlin dari dalam.
Perang yang awalnya dirancang sebagai alat pemulihan kejayaan Rusia justru memaksa pemerintah meninggalkan disiplin anggaran yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara itu. Parlemen Rusia telah memberikan kewenangan luas kepada Kementerian Keuangan untuk meningkatkan belanja dan memperluas utang tanpa proses pengesahan anggaran formal—langkah yang sebelumnya tak pernah terbayangkan dalam sistem yang mengutamakan kontrol ketat terhadap fiskal.
Hingga Mei 2026, defisit anggaran Rusia mencapai 2,6 persen dari PDB, atau sekitar 83 miliar dolar AS—dua kali lipat dari defisit sepanjang tahun 2025. Dana Kekayaan Nasional, yang selama bertahun-tahun menjadi bantalan fiskal, terus menyusut karena digunakan untuk menutupi kebutuhan perang. Prokopenko, peneliti di Carnegie Russia Eurasia Center, menyebut ini sebagai tanda otokrasi yang terpojok: “Mereka menulis ulang aturan fiskal sambil mengabaikan parlemen dan menolak mengakui bahaya yang semakin sulit dikendalikan.”
Di lapangan, serangan drone Ukraina semakin sering menjangkau wilayah dalam negeri Rusia, termasuk kilang minyak dan fasilitas pertahanan di sekitar Moskow dan St. Petersburg. Korban militer terus bertambah, sementara biaya kompensasi bagi keluarga prajurit ikut membengkak. Di dalam negeri, kelangkaan bahan bakar memicu antrean panjang di stasiun pengisian, inflasi melonjak, dan suku bunga tinggi membebani rumah tangga.
Prokopenko menegaskan, Kremlin kini tak lagi mampu menyeimbangkan tiga prioritas sekaligus: membiayai perang, menekan inflasi, dan menjaga pertumbuhan ekonomi. “Perang kini dibiayai dengan membebankan beban kepada rakyat dan menangguhkan aturan negara sendiri. Jika terus berlanjut, Rusia akan menghadapi ekonomi yang lebih miskin, masyarakat yang lebih marah, sistem keuangan yang semakin rapuh, serta pendanaan perang yang tak lagi dapat diandalkan.”
Tekanan juga muncul dari kalangan pendukung perang. Seorang veteran dan blogger militer, Aleksandr Lunin, memicu gelombang kekecewaan setelah mengunggah video yang menuduh komandan militer melakukan penyiksaan terhadap prajurit sendiri. Fenomena ini menunjukkan retakan yang mulai muncul di jantung sistem yang selama ini dianggap homogen.
Sementara itu, Frankopan menekankan bahwa perang ini bukan sekadar konflik militer, tapi transformasi politik yang mengubah cara negara memandang dirinya sendiri. “Kremlin tidak lagi memerintah dengan otoritas moral atau ekonomi yang kuat. Ia memerintah dengan kekuatan paksa dan kegagalan adaptasi. Dan sejarah menunjukkan, rezim yang kehilangan kemampuan beradaptasi akan runtuh dari dalam.”
Putin masih memegang kendali politik. Tapi tanda-tanda kegagalan sistemik kini tak lagi bisa diabaikan. Perang yang dimulai untuk memperkuat kekuasaan justru menjadi alat penghancur terbesarnya.















