Home Berita Nasional Pengabdian Tanpa Batas di Tanah Suci

Pengabdian Tanpa Batas di Tanah Suci

Sumbawanews.com,- M Ridho Prabowo, Koordinator Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 9 Daker Makkah, tak pernah melihat tugasnya sebagai beban. Baginya, setiap langkah mendampingi jemaah haji lansia adalah bentuk pengabdian yang tulus—seperti merawat orang tua sendiri.

Di tengah panasnya udara Makkah dan hiruk-pikuk ibadah haji, Ridho bergerak diam-diam di balik layar. Ia mengantar jemaah yang sulit berjalan ke Masjidil Haram, menemani mereka yang terbaring lemah di kamar, bahkan menjawab panggilan telepon di dini hari saat seorang jemaah meminta ditemani dalam kesendirian. Tidak ada jabatan yang menghiasi namanya, hanya ketulusan yang menggerakkan tangannya.

“Saya tidak memandang mereka sebagai jemaah yang harus dilayani. Saya memandang mereka sebagai orang tua yang butuh cinta, bukan sekadar pelayanan,” ujar Ridho dalam wawancara dengan Media Center Haji pada 17 Juni 2026.

Ia mengaku tidak merasa lelah, karena hatinya sudah siap. Kesabaran bukan sekadar keterampilan, tapi pilihan. Setiap kali seorang jemaah lansia memegang tangannya sambil berbisik, “Semoga Allah membalas kebaikanmu,” Ridho merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar tugas. Doa-doanya, katanya, adalah hadiah terindah yang tak bisa dibeli dengan uang.

Tugas Landis di Makkah bukan hanya soal distribusi kursi roda, pengantaran obat, atau penjemputan di titik-titik ibadah. Lebih dari itu, mereka menjadi penghubung antara kerinduan dan kehadiran. Bagi para jemaah yang jauh dari anak dan cucu, kehadiran Ridho—yang selalu tersenyum, selalu mendengar, selalu ada—adalah pelipur lara yang tak ternilai.

Ia mengingat satu malam ketika seorang ibu berusia 82 tahun, yang sehari-hari hanya bisa berbisik, tiba-tiba memegang tangannya dan berkata, “Anakku, kamu seperti anakku yang sudah tiada.” Ridho menangis diam-diam. Ia tak menjawab. Hanya memeluk erat, seolah-olah ia memang anaknya.

“Kalau kita hidup di dunia, untuk apa lagi kalau bukan untuk berbuat baik?” ujarnya sambil tersenyum. “Saya akan memilih Landis lagi. Karena di sini, saya bukan hanya melayani. Saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari kehidupan mereka—sejenak, tapi penuh makna.”

Di Tanah Suci, di antara jutaan jemaah yang berlarian menuju keberkahan, ada seorang pria yang memilih berjalan perlahan—bersama mereka yang tak bisa berjalan cepat. Dan dalam keheningan itu, ia menemukan arti sejati dari pengabdian: bukan karena diharapkan, tapi karena hati yang tak bisa berdiam diri.

Previous articleSBY Menangis Ingat Masa Kecil saat Nobar Film Sepatu
Next articleJakarta Masuk 50 Besar Kota Terbaik Dunia
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.