Sumbawanews.com,- Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berlangsung di Mashhad pada Kamis, 10 Juli 2026, di tengah eskalasi militer yang memperdalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Khamenei tewas pada 28 Februari lalu dalam serangan udara gabungan AS dan Israel, dan prosesi pemakamannya diwarnai kemarahan massa yang menyerukan balas dendam terhadap Presiden AS Donald Trump. Ribuan pelayat memadati kompleks Makam Imam Reza, sementara spanduk bertuliskan “Hey Trump, we will kill you” terpampang jelas di antara kerumunan. Jenazahnya bahkan diterbangkan menggunakan helikopter karena jumlah pelayat yang terlalu besar, dan satu jet tempur Iran mengawal penerbangan menuju Mashhad.
Serangan militer kedua belah pihak terus berlanjut sehari sebelum pemakaman. Iran melaporkan serangan AS menghantam jalur kereta Teheran-Mashhad dan area sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr, menewaskan sedikitnya 17 orang. Sementara itu, Iran mengklaim telah menyerang sistem pertahanan rudal Patriot di Kuwait, peringatan dini di Qatar, dan tangki bahan bakar di Bahrain menggunakan pesawat nirawak. Militer AS membantah terlibat dalam serangan terhadap infrastruktur sipil Iran, dan menyatakan puluhan rudal serta drone Iran telah dicegat tanpa menyebabkan kerusakan signifikan atau korban personel. Sirene peringatan juga terdengar di Yordania setelah militer negara itu berhasil mencegat delapan rudal yang diluncurkan dari Iran.
Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk sebagai penerusnya, tetap tidak muncul dalam prosesi pemakaman. Hingga kini, ia belum pernah tampil di depan publik sejak ditetapkan sebagai pemimpin baru Iran. Media pemerintah Iran menyalahkan AS atas serangan terhadap infrastruktur vital, sementara pejabat pertahanan Amerika Serikat menegaskan tidak ada operasi militer aktif terhadap Iran. Ketegangan semakin memanas saat wilayah udara Teheran ditutup sementara, dan lalu lintas kereta api antara ibu kota dan Mashhad terputus.















