Sumbawanews.com,- Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI Johan Rosihan menegaskan bahwa identitas budaya Tau Samawa merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya nasional. Pernyataan itu disampaikannya dalam sarasehan bertema “Budaya dan Identitas Tau Samawa” yang digelar di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu, dengan dihadiri 150 peserta dari berbagai kalangan. Rosihan menekankan, keberagaman budaya lokal seperti Tau Samawa harus dijaga sebagai fondasi penguatan karakter bangsa, sekaligus menjadi modal dalam pembangunan kebangsaan yang inklusif.
Ia menjelaskan, istilah “tau” berasal dari bahasa Sumbawa yang berarti orang atau manusia, sedangkan “samawa” adalah sebutan lokal untuk wilayah Sumbawa. Menurutnya, ruang dialog seperti sarasehan ini penting untuk mendokumentasikan, mengkaji secara ilmiah, dan mewariskan nilai-nilai lokal kepada generasi mendatang. “Keberagaman budaya adalah kekuatan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Akademisi Rusli Cahyadi menambahkan, identitas Tau Samawa bukanlah sesuatu yang statis atau ditentukan hanya oleh kelahiran. Ia merujuk pada penelitian antropolog Peter R. Goethals di Desa Rarak, Sumbawa, yang menemukan dua belas indikator sosial yang membentuk keanggotaan komunitas, termasuk hubungan kekerabatan, kepemilikan tanah, partisipasi dalam pertanian, aktivitas keagamaan, serta keterlibatan dalam kewajiban sosial seperti ronda, pembayaran pajak, dan kehidupan adat. “Identitas lahir dari praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar status administratif,” tegasnya. Ia juga mengangkat konsep lokal “Satama Djiwa dalam Karang. Nyenan,” yang menggambarkan seseorang telah memasukkan jiwanya ke dalam komunitas melalui pengabdian dan pengakuan sosial.
Seniman Sumbawa Iqbal Sanggo menekankan bahwa budaya Tau Samawa tidak boleh dilihat sebagai warisan masa lalu semata. Nilai-nilai seperti gotong royong, penghormatan terhadap adat, religiusitas, dan solidaritas sosial harus menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Menurutnya, modernisasi bukan alasan untuk meninggalkan identitas lokal, melainkan tantangan untuk menjadikannya fondasi dalam memperkuat daya saing daerah di tengah perubahan sosial yang cepat.















