Sumbawanews.com,- Real Madrid menghadapi ujian berat di laga pembuka Liga Champions, Rabu (9/9) dini hari WIB, saat menjamu Inter Milan di Stadion Santiago Bernabeu, tepat setelah menelan kekalahan pertama di bawah asuhan Jose Mourinho. Los Blancos, yang awal musim ini menang tiga kali berturut-turut atas Espanyol, Real Sociedad, dan Malaga, tumbang 0-1 dari Real Betis pada Sabtu (5/9) dini hari WIB. Gol Carlos Espi yang dianulir karena offside, ditambah penalti Mbappe yang gagal dieksekusi, memperdalam kegelisahan di kubu Madrid. Mourinho mengakui kekalahan itu sulit dijelaskan, sambil menyoroti keputusan wasit yang dinilai memengaruhi jalannya laga. Kekalahan ini menjadi yang pertama bagi sang pelatih sejak kembali menangani Real Madrid, dan datang di waktu paling tidak tepat—menjelang laga besar di panggung Eropa.
Inter Milan, yang datang sebagai juara bertahan Serie A, bukan lawan sembarangan. Dalam empat musim terakhir, Nerazzurri sudah dua kali mencapai final Liga Champions: kalah 0-1 dari Manchester City pada 2023, lalu kembali tersingkir oleh PSG pada 2025. Klub asal Milan ini telah tujuh kali tampil di final kompetisi Eropa, dengan tiga gelar juara dan empat kali runner-up. Di musim ini, Inter memimpin klasemen Liga Italia, hanya kalah selisih gol dari AS Roma, dan Lautaro Martinez—top skor Serie A musim lalu dengan 17 gol—tetap menjadi ancaman utama di lini depan. Pengalaman bertanding di bawah tekanan final membuat tim asuhan Cristian Chivu lebih tenang dan disiplin dalam situasi krusial.
Sementara itu, Real Madrid masih berjuang mengatasi masalah lama: dominasi penguasaan bola yang tak berbuah gol. Meski menguasai permainan dan menciptakan banyak peluang melawan Betis, penyelesaian akhir tetap menjadi titik lemah. Mourinho membutuhkan kejelasan taktis yang lebih kokoh, bukan sekadar “keajaiban” yang pernah ia bangun di masa lalu. Laga ini bukan hanya pembuka fase grup UCL, tapi juga pengukur sejauh mana transformasi Madrid di bawahnya masih rapuh atau sudah siap menghadapi tim-tim bermental juara.
Dengan status “Raja UCL” yang masih melekat, Madrid punya sejarah dan modal untuk menang. Tapi Inter bukan lawan yang bisa diabaikan hanya karena reputasi. Di hadapan 80.000 penonton di Bernabeu, yang menanti jawaban atas keraguan, Mourinho harus membuktikan bahwa ia mampu mengubah tim yang dominan menjadi tim yang mematikan—sebelum kekalahan melawan Betis menjadi awal dari krisis yang lebih besar.















