Sumbawanews.com,- Texas – Lionel Messi kembali menulis sejarah di panggung Piala Dunia. Dua golnya dalam kemenangan 2-0 Argentina atas Austria menjadi penanda sekaligus pencapaian luar biasa: ia resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen tersebut, menggeser Miroslav Klose yang selama 16 tahun memegang rekor.
Bermain di Dallas Stadium pada Selasa dini hari (23/6/2026), Argentina sempat tertegun setelah Messi gagal mengeksekusi penalti di menit ke-5. Sepakan kerasnya melenceng ke kanan gawang Alexander Schlager, memicu kecemasan sementara di sisi Albiceleste. Namun, kegagalan itu justru menjadi bahan bakar bagi sang kapten.
Di menit ke-39, Messi membayar kegagalan itu dengan sempurna. Menerima umpan tarik dari Facundo Medina di sisi kiri, ia mengolah bola dengan keanggunan khasnya, lalu melepaskan tembakan kaki kiri yang meluncur tajam ke pojok bawah gawang. Gol itu bukan sekadar pembuka skor—ia menjadikan Messi sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan 17 gol, melampaui catatan Miroslav Klose yang bertahan sejak 2014.
Tak puas dengan satu gol, Messi kembali menunjukkan kejeniusannya di masa injury time babak kedua. Setelah sepakan Julian Alvarez diblok pemain Austria, bola rebound langsung disambut Messi dengan tendangan voli ringan yang tak bisa dijangkau kiper. 2-0. Kemenangan mutlak. Dan rekor baru: 18 gol di Piala Dunia.
Kemenangan ini mengantarkan Argentina ke puncak Grup J dengan enam poin, unggul tiga angka atas Austria yang kini berada di posisi kedua. Sementara Yordania dan Aljazair masih berada di dasar klasemen dengan nol poin. Argentina kini tinggal menunggu hasil laga Yordania vs Aljazair untuk memastikan kelolosan ke babak 32 besar sebagai juara grup.
Austria, meski tampil lebih agresif di babak kedua, gagal menemukan celah. Marcel Sabitzer sempat mengancam di menit ke-54, tapi penjaga gawang Emiliano Martinez tampil tegas. Sementara tekanan Argentina terus mengalir lewat permainan terkoordinasi, dengan Enzo Fernández dan Alexis Mac Allister mengendalikan ritme di tengah lapangan.
Susunan pemain Argentina menunjukkan kedalaman tim: Lionel Scaloni memutar roda dengan memasukkan Julian Alvarez dan Nico Gonzalez sebagai pengganti di babak kedua, sementara Messi tetap menjadi ujung tombak yang tak tergantikan. Di sisi Austria, perubahan pemain di menit ke-67 hingga 85 tak mampu mengubah arah pertandingan.
Dengan dua gol ini, Messi tidak hanya memperkuat statusnya sebagai legenda hidup sepak bola dunia—ia juga memperdalam warisan yang tak akan tergantikan. Di usia 39 tahun, ia masih menjadi pemain yang mampu mengubah sejarah dalam hitungan detik.
Argentina kini berada di ambang babak gugur, dan Messi—dengan segala keajaibannya—masih menjadi satu-satunya orang yang bisa membuat dunia berhenti sejenak untuk menonton.















