Home Berita Nasional Melawan Arogansi, Mengenang Lahirnya Satpam sebagai Mitra Kepolisian

Melawan Arogansi, Mengenang Lahirnya Satpam sebagai Mitra Kepolisian

Sumbawanews.com,- Seorang polisi berpangkat tinggi dari Polda Jabar diduga membawa paksa seorang satpam setelah ditegur di kawasan Bundaran HI, Jakarta, pada akhir Juli 2026. Insiden ini memicu kecaman luas, sekaligus mengingatkan publik pada sejarah lahirnya Satuan Pengamanan sebagai mitra resmi Kepolisian Republik Indonesia. Satpam resmi berdiri berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No. EP/126/XII/1980 yang diterbitkan pada 30 Desember 1980 oleh Jenderal Polisi Awaloedin Djamin, yang kemudian diakui sebagai Bapak Satpam Indonesia.

Awaloedin Djamin, putra Padang yang lahir pada 26 September 1927, memulai karier sebagai mahasiswa ekonomi sebelum memilih bergabung dengan Korps Bhayangkara. Ia lulus dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada 1955, menempuh pendidikan lanjutan di Amerika Serikat, dan meraih gelar doktor di Universitas California Selatan pada 1963. Karier militernya membawanya menjabat sebagai lektor luar biasa di PTIK, Menteri Tenaga Kerja, Deputi Pangkat Urusan Khusus, Direktur Lembaga Administrasi Negara, hingga Duta Besar untuk Jerman Barat. Pada 1978, ia dilantik sebagai Kepala Kepolisian RI di tengah situasi keamanan yang kritis, dan di bawah kepemimpinannya, konsep Satpam sebagai kekuatan pengamanan swakarsa dirumuskan secara sistematis.

Pemikiran Awaloedin tentang peran satpam tidak hanya tertuang dalam kebijakan, tetapi juga dalam puluhan seminar, makalah, dan buku yang ia tulis. Ia meyakini bahwa satpam bukan sekadar tenaga keamanan biasa, melainkan perpanjangan tangan kepolisian di lapangan. Pada 2020, Peraturan Kepolisian Nomor 4 Tahun 2020 memperkuat kedudukan satpam sebagai profesi yang diakui, dengan perubahan seragam menjadi warna cokelat yang identik dengan Korps Bhayangkara, sebagai simbol kesetaraan dan kebanggaan institusional. Elisa Lumbantoruan, CEO PT ISS Indonesia, menegaskan bahwa tugas satpam adalah delegasi fungsi kepolisian yang harus dijalankan dengan standar profesional, bukan sebagai buruh rendahan.

Kasus arogansi yang terjadi di Bundaran HI menjadi ujian moral bagi institusi kepolisian. Jika para petugas mengingat sejarah bersama yang dibangun Awaloedin Djamin—bahwa satpam lahir dari visi untuk memperkuat keamanan bersama, bukan untuk menundukkan—maka insiden semacam ini tidak akan terulang. Satpam hadir di titik-titik strategis karena keterbatasan jumlah polisi, bukan karena posisinya lemah. Menghormati mereka adalah menghormati sejarah dan prinsip dasar keamanan nasional.

Previous articleShin Tae-yong Hadapi Sanksi KFA, Ronaldo Masuk Tim Terburuk Piala Dunia 2026
Next articlePiala AFF 2026: Myanmar Lawan Malaysia, Laos Hadapi Thailand Hari Ini