Sumbawanews.com,- Amanda Mitsuri, pendiri brand aksesori dan fashion lokal Massicot, mengandalkan MacBook Pro pemberian ayahnya sebagai alat utama membangun bisnisnya sejak 2011. Hadiah itu, yang diberikan sang ayah yang berprofesi sebagai geolog dan wirausahawan, bukan sekadar perangkat teknologi, tapi landasan karir yang ia anggap jauh lebih berharga daripada warisan finansial. “Dia bilang, ‘ini bukan warisan ratusan juta, tapi landasan untuk karir kamu,’” kenang Amanda dalam wawancara pada 12 Agustus 2026 di Jakarta.
Perangkat itu menjadi senjata utama dalam perjalanan Amanda meniti karier sebagai perancang produk. Di tengah masa pemulihan pasca-melahirkan pada 2018, ketika ia terbatas mobilitasnya selama tiga hingga empat bulan, suaminya memberikan iPad Pro sebagai kejutan. Gawai itu berubah menjadi studio portabel yang menyelamatkan kesehatan mentalnya—dengan Procreate dan Apple Pencil, ia mengekspresikan emosi dan ide lewat lukisan digital. “Ini benar-benar save my life,” ujarnya.
Dalam operasional Massicot, Amanda mengandalkan integrasi penuh ekosistem Apple: MacBook Pro, iPad Pro, dan iPhone. Tim kecil yang ia pimpin mampu beroperasi efisien berkat sinkronisasi antarperangkat yang mulus. “Orang luar melihat seperti tim besar, padahal kami ringkas. Semua berjalan berkat ekosistem Apple,” jelasnya. Untuk tahap kreatif, kombinasi iPad Pro dan Procreate menjadi pilar utama, karena responsivitas layar, akurasi warna, dan sensasi goresan digital yang meniru menggambar manual tanpa batasan teknis.
Amanda menekankan bahwa keandalan sistem operasi dan kalibrasi warna yang konsisten adalah faktor krusial dalam industri fashion dan visual storytelling. Ia menilai Apple mampu menyentuh hal-hal mendasar yang sering diabaikan merek lain: kestabilan tanpa bug, respons instan, dan kesederhanaan desain. “Itu bukan fitur besar, tapi pengalaman sehari-hari yang benar-benar berguna bagi profesional,” tambahnya.
Kini, Massicot terus berkembang sebagai pencerita narasi visual, bukan sekadar pengikut tren. Setiap koleksi lahir dari studio portabelnya—sebuah lembaran buku harian yang terus mengasah kepekaan terhadap sekeliling. “Menjadi amatir itu menunggu mood. Kami melatih diri untuk peka, bahkan dari bunga yang layu pun bisa dapat inspirasi,” pungkas Amanda.















