Home Serba Serbi Tekno Kulit Singkong Jadi Senjata Ampuh Lawan Limbah Nikel

Kulit Singkong Jadi Senjata Ampuh Lawan Limbah Nikel

Sumbawanews.com,- Di tengah maraknya eksploitasi tambang nikel yang menghasilkan limbah berbahaya berupa kromium hexavalen (Cr(VI)), sekelompok mahasiswa Universitas Airlangga menemukan solusi tak terduga: memanfaatkan limbah pertanian. Tim dari Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Unair berhasil mengembangkan adsorben berbasis komposit alami yang mampu menyerap logam berat beracun itu—dengan bahan utama kulit singkong, zeolit alam, dan Fe₃O₄ dari slag besi.

Inovasi ini lahir dari obrolan kelas yang menggugah kesadaran. Ketua tim, Sulaiman Fadhli, mengatakan ide awal muncul saat dosen mereka, Ganden Supriyanto, memaparkan bahaya limbah cair tambang nikel yang mengandung Cr(VI)—senyawa karsinogenik yang mencemari air tanah dan mengancam kesehatan manusia. “Kami bertanya, mengapa tidak memanfaatkan sesuatu yang justru dianggap sampah?” ujar Sulaiman.

Kulit singkong, yang selama ini dibuang begitu saja oleh industri pengolahan singkong, diolah menjadi karbon aktif—bahan dengan pori-pori mikro yang sangat efektif menangkap polutan. Zeolit alam, mineral alami yang sudah dikenal kemampuannya menyerap ion logam, menjadi pendukung utama. Sementara itu, slag besi—limbah industri metalurgi yang kaya akan Fe₃O₄—ditambahkan untuk memberi sifat magnetis pada adsorben. Hasilnya? Material yang tidak hanya mampu menyerap Cr(VI), tetapi juga mudah dipisahkan dari air setelah proses adsorpsi menggunakan magnet.

Riset yang didanai Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta ini kini memasuki tahap uji coba skala laboratorium dengan larutan Cr(VI) buatan. Langkah selanjutnya adalah pengujian langsung di limbah tambang nikel asli, untuk memastikan efektivitasnya di tengah kompleksitas kontaminan lain seperti nikel, tembaga, atau logam berat sekunder. “Kami ingin tahu apakah adsorben ini tetap stabil dan selektif terhadap Cr(VI), atau justru terganggu oleh campuran kimia lain,” jelas Sulaiman.

Keunggulan utama inovasi ini bukan hanya pada efisiensi teknis, tetapi pada prinsip ekonomi sirkular dan keberlanjutan. Dengan memanfaatkan tiga jenis limbah—kulit singkong, slag besi, dan limbah tambang itu sendiri—tim ini menjawab tiga tantangan sekaligus: pencemaran, pemborosan sumber daya, dan ketergantungan pada bahan kimia sintetis yang mahal dan berpotensi merusak lingkungan lebih dalam.

Penelitian ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 6 (air bersih), 12 (konsumsi dan produksi bertanggung jawab), 13 (aksi iklim), 15 (kehidupan darat), hingga 17 (kemitraan global). Jika berhasil dikembangkan secara komersial, teknologi ini bisa menjadi solusi ramah lingkungan yang murah dan mudah diadopsi di daerah-daerah pertambangan, terutama di Indonesia yang menjadi produsen nikel terbesar dunia.

“Kami tidak sedang menciptakan teknologi canggih yang hanya bisa dipakai di laboratorium,” ujar Sulaiman. “Kami sedang membuktikan bahwa solusi besar bisa datang dari hal-hal sederhana yang selama ini diabaikan.”

Dengan satu genggam kulit singkong, sekelompok mahasiswa telah menunjukkan bahwa keberlanjutan bukanlah mimpi yang mahal—melainkan pilihan cerdas yang bisa dimulai dari sampah.

Previous article1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni
Next articleRutan Salemba Gagalkan Penyelundupan Narkoba Lewat Obat Batuk dan Kunciran Rambut
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.