Sumbawanews.com,- Kekalahan memalukan 0-1 dari Afrika Selatan di laga terakhir Grup A Piala Dunia 2026 di Stadion Monterrey, Meksiko, tak hanya menghancurkan harapan Korea Selatan untuk lolos langsung ke babak 32 besar, tetapi juga menjatuhkan reputasi tim asuhan Hong Myung-bo di kancah internasional. Dalam pembaruan peringkat FIFA yang dirilis pada 26 Juni 2026, tim Ksatria Taeguk terpuruk ke posisi ke-30 dunia, turun lima tingkat dari peringkat ke-25 hanya dalam sepekan.
Penurunan drastis ini merupakan dampak akumulasi hasil buruk di fase grup. Setelah meraih kemenangan 2-1 atas Republik Ceko di laga pembuka, Korea Selatan langsung terpukul oleh kekalahan 0-1 dari tuan rumah Meksiko. Kekalahan terakhir melawan Afrika Selatan—yang hanya membutuhkan hasil imbang untuk melaju—menjadi pukulan final. Dari sisi perhitungan poin FIFA, kekalahan itu menguras 33,03 poin, melebihi tambahan 20,92 poin dari kemenangan awal dan menggugurkan 20,8 poin dari kekalahan sebelumnya.
Ini adalah kali pertama dalam empat setengah tahun Korea Selatan tidak lagi berada di jajaran 25 besar dunia. Terakhir kali mereka berada di peringkat 30 besar adalah pada Desember 2021. Kini, dengan tersingkir di fase grup, Korea Selatan tidak akan mendapat kesempatan menambah poin lagi, sementara negara-negara lain yang masih bertahan di turnamen berpeluang memperlebar jarak.
Di level Asia, situasi semakin memprihatinkan. Jepang, yang baru saja menahan imbang Swedia 1-1 dan lolos sebagai runner-up grup, kini berada di peringkat 16 dunia—jauh di atas Korea Selatan. Sementara itu, tim-tim seperti Iran dan Australia yang juga masih bertahan, berpotensi terus menaikkan peringkat mereka, memperdalam jurang antara Korea Selatan dan pesaing utamanya di benua.
Kapten tim, Son Heung-min, yang menjadi tulang punggung serangan, terlihat kecewa usai laga. Di tengah tekanan besar dari publik dan media, kekalahan ini bukan sekadar kegagalan di lapangan, tapi juga kegagalan strategis dalam mempertahankan citra tim yang selama ini dianggap sebagai kekuatan konsisten di Asia.
Jika tidak segera melakukan rekonstruksi menyeluruh—baik dari segi taktik, manajemen, maupun mental—Korea Selatan berisiko kehilangan statusnya sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia, sekaligus menghadapi tantangan lebih berat untuk kembali bersaing di Piala Dunia mendatang.















