Sumbawanews.com,- Sebuah klinik di London selatan, yang dikelola oleh seorang mantan pembuat es krim artisanal tanpa latar belakang medis, kini menjadi sorotan setelah menerapkan metode pengobatan kanker stadium empat yang ekstrem: memasukkan pasien dalam kantong plastik dalam keadaan telanjang dari leher ke bawah, lalu mengisi ruang tersebut dengan gas klorin dioksida—bahan kimia industri yang dikenal beracun dan justru dilarang untuk konsumsi manusia.
Alastair Jessel, pemilik Battersea Park Clinic, mengaku menjadi pelopor pertama di Inggris yang menerapkan “Protokol G” versi Andreas Kalcker, seorang pengusung pseudosains asal Jerman yang mempromosikan klorin dioksida sebagai obat ajaib untuk kanker, HIV, autisme, hingga COVID-19. Meski mengakui metode ini “paling berbahaya di antara semua protokol,” Jessel mengklaim tidak ada yang pernah mencobanya sebelum dirinya—meski tidak ada bukti ilmiah atau pengawasan medis yang mendukung praktiknya.
Dalam wawancara podcast, Jessel menggambarkan pengalaman menatap pasien telanjang dalam kantong plastik sebagai sesuatu yang “tidak pernah ia rencanakan,” namun menyebut hasilnya “sangat luar biasa.” Padahal, otoritas kesehatan Inggris tegas menyatakan: tidak ada bukti ilmiah bahwa paparan gas klorin dioksida aman atau efektif untuk mengobati kanker. “Mengganti pengobatan medis terbukti dengan terapi tak teruji bisa mengurangi efektivitas perawatan dan menimbulkan efek samping berbahaya,” tegas Caroline Geraghty dari Cancer Research UK.
Jessel, yang sebelumnya berkarier sebagai broker saham dan pemilik bisnis ubin, membuka kliniknya pada Desember 2021 setelah menghabiskan ratusan jam menonton video alternatif penyembuhan di YouTube. Awalnya, ia menawarkan terapi gelombang skalar—konsep yang tidak pernah terbukti secara ilmiah—sebelum beralih ke terapi cahaya merah, ruang oksigen hiperbarik, dan akhirnya, klorin dioksida. Ia bahkan mengklaim kliniknya menjadi “tujuan utama bagi penderita kanker yang mencari pendekatan holistik.”
Pada Desember 2024, kliniknya digeledah oleh otoritas kesehatan setempat setelah ditemukan botol klorin dioksida di ruang pelayanan. Meski kemudian produk itu dihapus dari situs web, promosinya tetap hidup di media sosial, termasuk tautan ke pidato seorang penentang vaksin ternama, Pierre Kory, yang pernah dipuji oleh tokoh politik AS Robert F. Kennedy Jr.
Kritik tajam datang dari keluarga pasien. Natalie Passant, putri seorang penderita kanker prostat yang menghabiskan sekitar $5.000 untuk perawatan di klinik itu sebelum meninggal pada Februari 2025, menyebut praktik Jessel sebagai manipulasi terhadap orang yang rentan. “Mereka mengalihkan pasien dari perawatan medis yang terbukti dan mendorong mereka mengeluarkan uang banyak untuk terapi palsu,” ujarnya.
Jessel membantah tuduhan itu, menulis di ulasan Google bahwa ia “tidak pernah menyarankan pasien meninggalkan radioterapi.” Namun, dalam berbagai podcast, ia secara terbuka menyatakan bahwa kliniknya “mengobati, menyembuhkan, dan menyembuhkan” pasien—bahkan menyebut 50 persen kliennya menderita kanker. Ia juga pernah menyebut kliennya sebagai “cukup bodoh” dalam mengelola penggunaan klorin dioksida sendiri.
Aktivis Fiona O’Leary dari Irlandia, yang melaporkan praktik ini ke otoritas setempat, menyebutnya sebagai “eksperimen berbahaya terhadap pasien kanker yang rentan.” Sementara itu, Badan Pengawas Kesehatan Inggris, Dewan Wandsworth, dan Badan Pengatur Obat dan Alat Kesehatan belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.
Di balik semua klaim “holistik” dan “alami,” yang tersisa adalah praktik yang melanggar hukum: Undang-Undang Kanker Inggris 1939 melarang non-profesional medis mempromosikan pengobatan atau penyembuhan kanker. Jessel, yang mengaku tidak menjalankan bisnis demi keuntungan, justru menghasilkan pendapatan dari para pasien yang putus asa—dengan harga nyawa mereka sebagai bayarannya.

















