Home Berita Nasional Kilau Mutiara yang Menyembuhkan Keraguan Diri

Kilau Mutiara yang Menyembuhkan Keraguan Diri

Sumbawanews.com,- Di sebuah pasar akhir pekan di Bali, deretan kalung dan gelang berhias mutiara berkilauan diterpa sinar matahari. Setiap potongan logam yang dipahat halus, setiap butir mutiara yang dipilih teliti, bukan sekadar aksesori—melainkan bukti perjuangan seorang perempuan muda melawan keraguan terdalamnya.

Namanya Gek Nanda Putri Dana Asih, perempuan 24 tahun asal Bali yang bersama sang kakak, Gek Ehyang Astiti, mendirikan By Ash Jewelry pada 2022. Awalnya, usaha ini lahir dari kebutuhan pribadi: Nanda yang memiliki kulit sensitif kesulitan menemukan perhiasan yang nyaman dipakai. Produk-produk di pasaran sering membuatnya gatal, bahkan iritasi. Ia pun memutuskan: jika tidak ada yang cocok, ia akan membuat sendiri.

Dengan bahan dasar stainless steel yang tahan lama dan ramah kulit, Nanda mulai merangkai perhiasan sederhana—dipadukan dengan mutiara lokal, kekayaan alam Indonesia yang jarang dieksplorasi sebagai bahan kreatif. Awalnya, produk itu hanya untuk dirinya sendiri. Tapi ketika teman-temannya mulai meminta salinannya, ia sadar: ini bukan sekadar hobi. Ini bisa jadi sesuatu yang lebih besar.

Namun, perjalanan bisnisnya tidak mulus. Meski sudah lulus kuliah pada 2023 dan mulai fokus mengembangkan By Ash Jewelry, keraguan terus menghantui. “Orang bilang, ‘Ini bukan emas, kenapa harganya mahal?’” kenang Nanda. Beberapa toko menolak menitipkan produknya, dengan alasan “terlalu biasa” atau “tidak bernilai tinggi.” Setiap komentar itu menggerogoti kepercayaannya. Bahkan ia sempat bertanya pada diri sendiri: “Apakah karyaku benar-benar layak dihargai?”

Titik balik datang tak terduga. Pada 2025, Nanda mendaftar ke SisBerdaya, program pendampingan UMKM yang digelar DANA. Ia tidak berniat menang. Bahkan, motivasinya sederhana: “Ingin sekali ke Jakarta.” Tapi justru dari sikap tanpa beban itu, ia lolos dari 2.000 peserta dan masuk 35 besar. Di Jakarta, ia bertemu puluhan perempuan pejuang UMKM dari berbagai daerah—semua punya cerita pahit, semua punya mimpi kecil yang besar.

Di sana, bukan hanya pelatihan bisnis yang ia dapatkan. Lebih dari itu, ia menemukan refleksi: bahwa nilai sebuah produk bukan ditentukan oleh bahan mulia, tapi oleh ketulusan, ketahanan, dan keberanian untuk tetap berkarya meski diragukan. Pada akhir kompetisi, By Ash Jewelry dinobatkan sebagai juara pertama.

“Di Jakarta, aku akhirnya percaya. Bukan karena piala, tapi karena aku melihat diriku di mata mereka—yang juga pernah merasa tak cukup baik,” ujar Nanda.

Kini, By Ash Jewelry rutin hadir di Sunday Market setiap akhir pekan di Bali, sambil tetap menjaga kualitas dan transparansi. Produknya tetap menggunakan stainless steel dan mutiara alami, tanpa embel-embel “mewah” yang tidak jelas. Nanda dan sang kakak sedang mengumpulkan modal untuk membuka toko permanen pertama mereka—bukan untuk memperbesar skala, tapi untuk menciptakan ruang yang autentik, sesuai dengan nilai yang mereka pegang.

Olavina Harahap, Direktur Komunikasi DANA Indonesia, mengatakan SisBerdaya adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk memberdayakan UMKM perempuan, yang menyumbang lebih dari 60% dari total UMKM di Indonesia. “Mereka seringkali tidak punya akses ke pelatihan, modal, atau jaringan. Tapi justru di situlah kekuatan mereka lahir: ketangguhan tanpa dukungan.”

Empat tahun berlalu, By Ash Jewelry belum menjadi merek besar. Tapi di balik setiap mutiara yang berkilau, ada sebuah kisah yang jauh lebih berharga: seorang perempuan yang belajar percaya pada dirinya sendiri, bukan karena diakui dunia, tapi karena ia memilih untuk tetap berkarya—meski ragu.

Dan di Bali, di bawah sinar matahari yang sama, kilau mutiara itu terus bersinar.

Previous articleDraf Damai AS-Iran Final, DPR Minta Indonesia Siap Hadapi Segala Skenario
Next articleKucing Penyelamat Leningrad
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.