Sumbawanews.com,- Pelatih Timnas Kanada, Jesse Marsch, tak bersembunyi dari kekecewaan usai timnya dikalahkan 1-2 oleh Swiss dalam laga penentuan juara Grup B Piala Dunia 2026 di Vancouver. Meski hasil itu tetap mengamankan posisi runner-up dan lolos ke babak 32 besar, Marsch tegas menyatakan bahwa timnya gagal menunjukkan kegarangan yang dibutuhkan di momen-momen krusial.
“Kami punya semangat, kami punya tekad, tapi kami tidak cukup agresif ketika harus menyerang,” ujar Marsch usai pertandingan. “Di babak pertama, kami terlalu hati-hati. Kami menunggu, bukan menyerang. Dan di sepakbola modern, menunggu berarti kalah.”
Kanada sempat unggul 1-0 lewat gol cepat di menit ke-12, namun Swiss menyamakan skor lewat tendangan bebas Granit Xhaka di menit ke-37. Di awal babak kedua, kegagalan taktis menjadi titik balik: Marsch menunda perubahan formasi menjadi lima bek, membiarkan Swiss menguasai permainan dan mencetak gol penentu melalui aksi cepat di menit ke-49.
“Saya menyesal tidak mengganti strategi lebih cepat setelah turun minum,” akui Marsch. “Kami tahu mereka akan menekan. Kami harus menutup ruang, bukan menunggu mereka datang.”
Meski kekalahan itu mengakhiri peluang menjadi juara grup, Marsch tetap menekankan pencapaian sejarah Kanada: pertama kalinya dalam 36 tahun, timnya lolos ke fase gugur Piala Dunia. Ia menilai ini sebagai fondasi yang harus dibangun, bukan akhir dari perjalanan.
“Ini bukan kekalahan yang membuat kami kecewa. Ini adalah pelajaran yang membuat kami lebih kuat,” katanya. “Kami datang ke sini bukan hanya untuk ikut, tapi untuk membuktikan bahwa Kanada bisa bersaing di level tertinggi.”
Marsch juga memberikan kabar positif menjelang laga berikutnya: Alphonso Davies, sang bintang sayap yang absen sejak laga pembuka karena cedera, diperkirakan siap tampil dalam pertandingan 32 besar di Los Angeles. Kembalinya Davies, menurut pelatih asal Amerika Serikat itu, akan memberi dorongan psikologis sekaligus taktis bagi tim.
“Dia adalah pemain yang bisa mengubah segalanya dalam satu sentuhan. Kami butuh itu di babak berikutnya.”
Dengan kekalahan ini, Swiss mengambil alih posisi pimpinan Grup B dan melaju sebagai tim terkuat di fase gugur. Sementara Kanada, meski tak sempurna, telah menulis sejarah baru: bukan lagi tim yang hanya ikut-ikutan, tapi tim yang siap bertarung — meski dengan cara yang masih harus diperbaiki.
Marsch menutup wawancaranya dengan nada optimistis: “Kami tidak datang untuk bermain. Kami datang untuk menang. Dan kami masih punya kesempatan untuk membuktikannya.”















