Sumbawanews.com,- Mina, Arab Saudi — Ribuan jemaah haji mulai berdatangan ke kawasan Mina pada Senin (25/5) malam waktu setempat, memasuki fase krusial dalam rangkaian ibadah haji. Dengan langkah penuh khusyuk, mereka membawa bekal doa dan harapan, siap menjalani malam-malam penuh refleksi sebelum menyambut puncak ibadah: wukuf di Padang Arafah.
Mina, yang dikenal sebagai pusat ritual lempar jumrah, kini berubah menjadi kota tenda yang hidup dengan suara zikir dan hembusan napas para jemaah yang beristirahat sejenak sebelum perjalanan spiritual berikutnya. Di bawah langit yang mulai gelap, barisan tenda putih membentang luas, menampung jemaah dari seluruh penjuru dunia—termasuk ribuan dari Indonesia—yang menunggu waktu untuk berangkat ke Arafah setelah matahari terbit.
Di sini, waktu tidak diukur dengan jam, melainkan dengan doa. Jemaah memperbanyak ibadah sunnah, membaca Al-Qur’an, dan menata hati untuk menghadapi wukuf, rukun haji yang tak bisa diganti atau diulang. Sebagian besar memilih tidur di bawah tenda, menyesuaikan diri dengan ritme ibadah yang ketat, sementara petugas kesehatan dan pemandu terus bergerak lincah, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi.
Ritual lempar jumrah yang akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan—di tiga tiang batu di Mina—menjadi penutup rangkaian ibadah utama. Namun, sebelum itu, semua mata dan hati tertuju pada Arafah, tempat di mana jemaah akan berdiri sepanjang siang, memohon ampunan dengan penuh pasrah.
Dengan suhu yang mulai meningkat dan kerumunan yang terus bertambah, otoritas Arab Saudi terus memperkuat logistik, keamanan, dan layanan kesehatan. Tidak ada yang diabaikan—dari air minum, transportasi, hingga sistem komunikasi darurat—semua dirancang untuk menjamin kelancaran ibadah, sekaligus menjaga keselamatan jutaan jiwa yang berkumpul di tanah suci.
Malam di Mina bukan sekadar istirahat. Ia adalah momen sakral—ketika manusia, dalam kesederhanaan tenda dan doa, berhadapan langsung dengan Sang Pencipta. Dan di balik setiap langkah yang pelan, tersimpan harapan yang tak terhingga: untuk ampunan, untuk ketenangan, untuk kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.















