Sumbawanews.com,- Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mematangkan pembentukan Jakarta Film Commission sebagai langkah strategis memperkuat posisinya sebagai pusat produksi film nasional sekaligus destinasi utama industri kreatif perfilman. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan, komisi ini akan menjadi jembatan antara sineas lokal dan pemerintah, dengan menawarkan berbagai fasilitas dan insentif guna mendorong produksi film berkualitas.
Dalam acara pemutaran film *Ghost in the Cell* yang digelar dalam rangka Bulan Bung Karno, Rano menekankan bahwa keberhasilan karya sinema Indonesia bukan lagi fenomena kecil. Film garapan sineas lokal itu telah ditonton lebih dari 3,2 juta penonton dalam waktu 32 hari dan berhasil menjual hak distribusi ke 148 negara. “Ini bukan sekadar kesuksesan komersial, tapi bukti bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung global,” ujarnya.
Rano menyoroti anomali yang jarang terjadi di negara lain: sementara bioskop di Hong Kong menyusut hingga tersisa hanya 25 gedung, Jakarta masih memiliki lebih dari 3.500 layar bioskop. Pada 2024, jumlah penonton film di Indonesia mencapai 122 juta orang—angka yang justru terus tumbuh meski dunia semakin beralih ke platform digital. “Ini menarik perhatian produser dan investor internasional. Mereka datang ke Jakarta bukan hanya untuk berlibur, tapi untuk membuat film,” katanya.
Pembentukan Jakarta Film Commission, menurut Rano, bukan sekadar upaya promosi, tapi bentuk komitmen nyata terhadap seni sebagai alat pembangunan karakter bangsa. Ia mengingatkan bahwa Presiden pertama RI, Soekarno, selalu menempatkan seni dan film sebagai cermin realitas sosial, bukan sekadar hiburan. “Bung Karno tahu, film bisa menggugah kesadaran, membangun identitas, dan menyatukan bangsa. Kita harus melanjutkan warisan itu,” tegasnya.
Komisi ini rencananya akan berperan sebagai koordinator antara pemerintah, produser, lokasi syuting, dan pelaku industri kreatif. Fasilitas yang akan disediakan mencakup kemudahan perizinan, subsidi produksi, akses ke lokasi strategis di ibu kota, hingga pelatihan bagi talenta muda. Tujuannya jelas: menjadikan Jakarta bukan hanya tempat syuting, tapi juga laboratorium inovasi perfilman Indonesia yang berdaya saing global.
Dengan langkah ini, Pemprov DKI berambisi mengubah Jakarta dari sekadar latar belakang film menjadi mesin penggerak utama industri kreatif nasional—tempat cerita-cerita Indonesia lahir, berkembang, dan menjangkau dunia.

















