Sumbawanews.com,- Pelatih legendaris sepak bola Indonesia Iwan Setiawan meninggal dunia pada Kamis, 3 September 2026, dalam usia 68 tahun. Kepastian ini disampaikan sejumlah kolega dan mantan rekan kerjanya, termasuk Sekretaris Sriwijaya FC, Faisal Mursyid, serta pelatih Rudy Eka Priyambada dan Indra Sjafri. Iwan, yang lahir di Medan pada 5 Juli 1958, meninggalkan jejak panjang sebagai pemain, pelatih, hingga instruktur kepelatihan yang dikenal vokal, berprinsip kuat, dan penuh semangat di pinggir lapangan.
Iwan dikenal sebagai sosok yang tak pernah takut menyuarakan pendapat, baik dalam manajemen tim maupun diskusi filosofi sepak bola. Karier kepelatihannya mencakup sejumlah klub besar Tanah Air, termasuk PSMS Medan, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Borneo FC, Persela Lamongan, dan terakhir Sriwijaya FC. Salah satu pencapaian puncaknya terjadi saat membawa Borneo FC menjuarai Divisi Utama pada masa lalu, sekaligus mengantarkan tim promosi ke liga tertinggi. Ia juga pernah menangani Timnas Indonesia U-17 dan aktif sebagai instruktur lisensi kepelatihan di berbagai jenjang.
Di Sriwijaya FC, Iwan ditunjuk pada Februari 2026 untuk memimpin Laskar Wong Kito di kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026. Meski upayanya tidak mampu menyelamatkan tim dari degradasi setelah rangkaian hasil buruk di putaran ketiga, kehadirannya dianggap sebagai bentuk komitmen untuk memberikan kestabilan di masa krisis. Ia datang bukan hanya sebagai pelatih, tapi sebagai sosok yang membawa pengalaman dan ketegasan yang dibutuhkan klub.
Indra Sjafri mengungkapkan bahwa ia sempat berdiskusi dengan Iwan hanya sehari sebelum kabar duka itu datang, membahas filosofi sepak bola Indonesia. Rudy Eka Priyambada pun menyampaikan doa melalui akun Instagramnya, memohon agar amal ibadah Iwan diterima di sisi Allah SWT, dosa-dosanya diampuni, dan keluarganya diberi ketabahan. Faisal Mursyid dari Sriwijaya FC juga mengucapkan belasungkawa dengan kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Iwan Setiawan meninggalkan warisan tak ternilai: karakter kuat, semangat mengajar, dan dedikasi tanpa kompromi terhadap perkembangan sepak bola Indonesia. Ia bukan sekadar pelatih—ia adalah simbol keberanian dan kebanggaan dalam dunia kepelatihan Tanah Air.















