Home Berita Olah Raga Ivan Toney Buktikan Nilai Lebih dari Sekadar Penendang Penalti

Ivan Toney Buktikan Nilai Lebih dari Sekadar Penendang Penalti

Sumbawanews.com,- Miami Gardens – Kehadiran Ivan Toney di skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026 sempat menuai kontroversi. Banyak yang menduga ia dipanggil hanya karena keahliannya mengeksekusi penalti—sebuah keahlian yang dianggap penting mengingat sejarah buruk Inggris di adu penalti. Tapi Toney menegaskan, ia bukan sekadar “senjata rahasia” di bangku cadangan.

Pemain berusia 28 tahun itu memang bukan pilihan pertama banyak pihak. Nama-nama seperti Dominic Calvert-Lewin dan Jarrod Bowen, yang lebih produktif di Liga Inggris, dianggap lebih layak. Namun, Toney justru menunjukkan konsistensi luar biasa di liga lain: 42 gol dari 49 pertandingan bersama Al-Ahli di Liga Champions Asia, sekaligus membawa klubnya mempertahankan gelar juara. Prestasi itu menjadi dasar keputusan pelatih Thomas Tuchel memanggilnya.

Meski baru mengoleksi delapan caps bersama Inggris dan hanya bermain dua kali dalam setahun terakhir, Toney tidak mempermasalahkan keraguan publik. Ia tahu, di tengah tekanan, setiap keputusan akan dikupas habis. Tapi ia menolak dibatasi oleh stereotip.

“Saya pikir saya di sini bukan cuma jadi penendang penalti,” ujar Toney dalam wawancara dengan *Telegraph*. “Saya yakin bisa memberi lebih banyak untuk permainan Inggris. Tapi jika saya cuma main satu menit dan diminta mengeksekusi penalti, saya tidak akan menolak. Saya di sini untuk membantu tim.”

Pernyataannya bukan sekadar retorika. Dalam dua laga terakhir Inggris di grup L—melawan Ghana dan Panama—Toney masuk sebagai pengganti dan langsung memberi dampak: mengganggu pertahanan lawan, menciptakan ruang bagi rekan setim, dan menjaga tekanan di lini depan. Ia bukan hanya menunggu momen penalti; ia menciptakan momen.

Tuchel sendiri sebelumnya menegaskan, pilihannya bukan berdasarkan satu keahlian semata. “Kami butuh spesialis—tapi bukan hanya spesialis penalti. Kami butuh pemain yang bisa mengubah dinamika permainan, bahkan dalam waktu singkat,” katanya.

Dengan Inggris yang kini memimpin Grup L setelah dua laga (satu menang, satu seri), Toney menjadi bukti bahwa nilai seorang pemain tak selalu terukur dari statistik liga domestik atau jumlah caps. Ia adalah simbol keberanian Tuchel dalam memilih keunikan di tengah homogenitas.

Dan jika nanti penalti diperlukan—entah di babak 16 besar atau final—maka Toney akan siap. Tapi bukan karena ia hanya penendang. Ia siap karena ia adalah striker yang tahu bagaimana menghancurkan pertahanan, bahkan ketika bola belum menyentuh titik putih.

Previous articleSuporter Iran Berbalik Badan Saat Lagu Kebangsaan Diputar di Piala Dunia 2026
Next articleMendagri Tito Dorong Mahasiswa Unhan NTT Berwirausaha di Sektor Pertanian dan Perikanan